Tentang Perempuan di Tengah Ladang

“Kau ini cantik Sar, badanmu juga bagus. Bukankah sebelum menikah, dulu kau adalah kembang desa di sini. Kau tidak mau dandan cantik seperti dulu lagi? Suamimu hanya mengajakmu hidup susah, sampai wajahmu menua seperti itu. Pikirkan juga masa depan anakmu, kau membutuhkan banyak uang untuk biaya masa depannya,” lanjut Pak Darwin, Juragan kaya di desa yang pernah merayu Sarmini untuk menceraikan suaminya dan menikah dengannya.

Dikisahkan oleh Yudi Setiyadi*

SUARA pukulan yang keras terdengar dari arah ladang. Ayunan pancong yang dihujamkan ke tanah oleh Sarmini, mencipta irama yang tak asing bagi telinga orang-orang di sekitarnya. Bentangan kain sarung yang disangga sebilah bambu menjadi pelindung teriknya matahari siang itu. Musim kemarau membuat tanah kering, otot-otot tangan Sarmini harus bekerja lebih keras untuk menggemburkan tanah, sebelum dia masukkan ke polibag sebagai media tanam.

Bagi Sarmini, hari minggu bukanlah waktu berlibur seperti kebanyakan orang. Dia tetap harus bermandi peluh, demi menjaga dapur tetap mengepul. Guratan semangat nampak jelas di raut wajahnya yang sudah tidak pernah lagi diberi bedak. Usianya baru 35 tahun, tapi dia sudah lupa cara berdandan, tak pernah ada uang lebih dari penghasilannya yang bisa dia gunakan untuk mempercantik diri.

Bersama dengan tiga perempuan lain yang lebih tua darinya, Sarmini menghabiskan hari-harinya di sebuah ladang milik Pak Darwin, seorang juragan bibit tanaman. Pekerjaan sebagai buruh tani menjadi satu-satunya pilihan, tidak ada kemampuan lain yang dia miliki. Beruntung, desa tempatnya tinggal sudah lama dikenal sebagai desa pusat pembibitan tanaman, pekerjaan yang sama dengannya tidak sulit dicari di desanya. Bahkan anak-anak muda usia sekolah pun banyak yang sudah pandai bekerja. Cepatnya perputaran ekonomi di desa itu, memberi pilihan hidup lain bagi anak-anak yang terhitung masih di bawah umur, bekerja dan menghasilkan uang. Tidak perlu sekolah, karena sekolah pun ujungnya akan digunakan untuk mencari uang.

Sudah tiga tahun Sarmini menggantungkan hidupnya dengan bekerja di ladang milik Pak Darwin. Dia biasa memulai rutinitasnya setiap jam tujuh pagi, setelah anaknya berangkat sekolah dan makanan untuk suaminya sudah tersaji di atas meja, di samping tempat tidurnya. Saat dia hendak pergi, suaminya masih tergeletak di ranjang, penyakit stroke telah memaksanya hanya bisa melalui hari-hari di kamar tidur. Tidak banyak aktivitas yang bisa dilakukan, hanya duduk untuk makan, buang hajat dan kencing yang semuanya dilakukan di dalam kamar. Tangan kirinya sudah tak berfungsi, sementara kaki kirinya sering kali terseok setiap kali dia mencoba berjalan dengan bantuan kruk yang terbuat dari kayu. Seminggu sekali biasanya Sarmini memandikannya.

Tangan Sarmini sudah cukup terampil memasukan tanah ke polibag. Dalam waktu satu hari dia bisa menghasilkan 300 polibag, pengalaman yang mengajarkannya. Namun murahnya ongkos kerja yang dia dapatkan, hanya bisa memberinya penghasilan 15 ribu rupiah setiap hari. Hanya cukup untuk membeli beras dan uang saku anaknya yang masih kelas empat Sekolah Dasar, sementara untuk lauk makan, dia biasa memetik daun pohon dari kebun. Daun apa pun dia masak, asalkan tidak beracun. Hanya itu yang bisa dia lakukan untuk bertahan hidup bersama suami dan anaknya. Keluarganya baru bisa makan enak jika sedang ada rezeki pemberian makanan dari tetangganya.

Ketika adzan dzuhur berkumandang, Sarmini dan ketiga perempuan teman kerjanya beristirahat di teras samping rumah Pak Darwin. Mereka menyantap bekal makan yang dibawa dari rumah, sambil bercengkerama menghilangkan lelah. Tidak ada lauk yang spesial dari bekal makanan yang mereka bawa, isinya hampir sama, sayur dedaunan dari kebun. Barangkali nasib ekonomi keluarga mereka sama.

Waktu awal mulai bekerja sebagai buruh tani di ladang milik Pak Darwin, istri Pak Darwin acap berbaik hati, berbagi lauk yang enak atau kadang buah untuk keempat perempuan itu. Tapi sudah empat bulan ini kebiasaan itu tidak dilakukan lagi. Suatu hari istri Pak Darwin pernah jengkel kepada Sarmini, dia memergoki suaminya sedang merayu Sarmini di ladang. Cemburu, itulah alasan yang membuat Sarmini dan teman-temannya tidak lagi mendapatkan makanan enak yang keluar dari pintu rumah Pak Darwin.

“Sar.. Sarmini”. Terdengar suara Pak Darwin memanggil dari dalam rumah saat keempat perempuan itu sedang menyantap bekal makanan.

“Saya pak,” jawab Sarmini sambil bergegas berjalan ke arah pintu rumah. Dilihatnya Pak Darwin sedang duduk santai di depan televisi.

“Kau ambil makanan di meja dapur, ada ikan laut yang digoreng sama ibu tadi pagi sebelum berangkat ke rumah paman,” suruh Pak Darwin sambil matanya tetap melihat ke arah televisi.

“Mohon maaf pak, saya tidak berani,” jawab Sarmini dengan suara rendah penuh keraguan.

“Sudah ambil saja, saya yang suruh kau. Kalau ada apa-apa nanti jadi urusanku,” kata Pak Darwin dengan nada suara yang tegas.

Sarmini tetap bertahan di pintu rumah Pak Darwin, dia tidak berani melangkahkan kakinya memasuki rumah itu, apa lagi untuk mengambil lauk di atas meja dapur seperti perintah Pak Darwin. Karena tidak mendengar suara langkah kaki memasuki rumahnya, Pak Darwin membalikkan badannya dan menatap Sarmini.

“Kenapa kau diam saja di situ? Kau takut? Sudah cepat sana ambil, ibu baru pulang nanti malam, sedang membantu acara hajatan di rumah paman,” ucap Pak Darwin sambil matanya menatap tajam pada Sarmini.

Dengan langkah yang berat, Sarmini memasuki rumah itu. Dia menuju dapur yang bersebelahan dengan ruang keluarga. Memang ada banyak lauk di atas meja dapur, sajian yang tidak pernah dia jumpai ada di meja makan rumahnya. Sesuai dengan perintah Pak Darwin, dia mengambil ikan laut goreng yang ada di atas meja, dia tidak berani mengambil semuanya, hanya empat ekor cukup untuk dia dan ketiga temannya. Tangannya menggenggam empat ekor ikan laut goreng, dia tak berani mengambil piring lain sebagai wadahnya. Lalu dia bergegas berbalik untuk keluar dari dapur, teman-temannya pasti akan senang, siang itu mereka dapat rezeki makan enak.

Baru hendak beranjak dari tempatnya semula mengambil ikan laut goreng, Sarmini dikagetkan dengan kehadiran Pak Darwin yang sudah berdiri di pintu dapur. Jantungnya hampir copot, beragam tanya berkecamuk dalam pikirnya, dia tidak tahu alasan apa yang membuat lelaki dengan perut buncit yang telanjang dada itu menghampirinya ke dapur. Pak Darwin menghampiri Sarmini yang masih berdiri kaku belum sadar dari rasa kagetnya.

“Sar, kenapa sih kau mau bekerja susah payah menjadi buruh di ladangku? Bukankah aku sudah pernah menawarkan hidup enak untukmu? Suamimu itu sudah tidak ada harapan untuk sembuh, apa kau mau seumur hidup merasakan hidup susah?” kata Pak Darwin dengan tatapan pada mata Sarmini.

“Maaf pak,” hanya jawaban itu yang keluar dari mulut Sarmini sambil menundukkan wajahnya, menghindar dari tatapan mata Pak Darwin.

“Kau ini cantik Sar, badanmu juga bagus. Bukankah sebelum menikah, dulu kau adalah kembang desa di sini. Kau tidak mau dandan cantik seperti dulu lagi? Suamimu hanya mengajakmu hidup susah, sampai wajahmu menua seperti itu. Pikirkan juga masa depan anakmu, kau membutuhkan banyak uang untuk biaya masa depannya,” lanjut Pak Darwin.

Tanpa sepatah kata yang keluar dari mulutnya, Sarmini tetap menunduk. Dia membisu, tidak mau menanggapi hal apa pun yang disampaikan oleh lelaki di depannya. Juragan kaya di desa yang pernah merayu Sarmini untuk menceraikan suaminya dan menikah dengannya.

“Aku akan menanggung semua kebutuhan hidupmu Sar. Kau tidak perlu lagi susah payah bekerja seperti ini. Kalau kau mau, aku bahkan akan menceraikan istriku. Aku sudah bosan hidup dengan perempuan yang tidak bisa memberiku anak itu,” ujar Pak Darwin mencoba meyakinkan Sarmini.

Pak Darwin tidak mendapatkan jawaban apa pun dari Sarmini. Dia melangkahkan kakinya, mendekati perempuan itu, dipegangnya pundak Sarmini, lalu dia pegang dagu Sarmini dan mencoba menengadahkan wajahnya. Dia tatap mata Sarmini yang tetap terus berusaha menunduk.

Badan Sarmini seketika bergetar, dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Tawaran dari Pak Darwin sempat merasuk ke dalam pikirannya dan menjadi pertimbangan. Dia bimbang, selama ini dia memang hidup susah, suaminya yang harus memberinya nafkah, kini sudah tidak berdaya lagi. Dia sempat berpikir untuk menerima tawaran Pak Darwin, tapi dia juga merasa kasihan kepada suaminya jika harus dia tinggalkan.

Keringat dingin muncul dari pori-pori kulit di dahinya, dia rasakan tangan kiri Pak Darwin seperti mencengkeram tubuhnya. Sementara wajahnya sudah ditengadahkan oleh tangan kanan Pak Darwin yang memegang dagunya, dia tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh juragannya itu.

Pak Darwin mendekatkan wajahnya ke wajah Sarmini, dia kecup bibir Sarmini yang asin karena keringat kering. Lalu dia tarik tubuh Sarmini ke tubuhnya, dia peluk tubuh perempuan yang sudah lama dia idamkan. Ikan goreng yang berada dalam genggaman tangan Sarmini menempel ke perut buncitnya, di sebelah pusarnya yang dalam.

“Jadilah istriku Sar, aku akan memberimu hidup enak. Dan kau bisa memberikanku anak,” bisik Pak Darwin pada telinga Sarmini.

Sarmini sesenggukan, wajahnya tertunduk, air matanya menetes, menangisi nasib hidupnya yang tidak beruntung. Menikah dengan lelaki yang dia cintai, tapi malah membawanya pada hidup susah. Dia juga menangis karena merasa bersalah atas apa yang sedang terjadi, membiarkan Pak Darwin mencium bibirnya dan membiarkan memeluk tubuhnya. Tubuh yang selama ini dia abdikan untuk menghidupi suami dan anaknya.

Tangan lemah Sarmini yang masih memegang ikan laut goreng, mencoba mendorong tubuh gempal Pak Darwin, berusaha melepaskan pelukan dan menjauhkan tubuhnya. Sarmini berusaha menengadahkan wajahnya sendiri, menatap lelaki yang telah menawarkan banyak harapan kepadanya.

“Maaf pak. Mulai siang ini saya berhenti bekerja di sini,” ucap Sarmini.

===

Keterangan Penulis: Yudi Setiyadi adalah Pegiat Komunitas Pena Desa, fiksi ini berdasarkan kisah nyata dari pengalamnnya bertemu dengan perempuan di salah satu desa. Kisah ini juga sudah dipublikasikan di blog pribadinya: abilawa

About Perempuan Berkisah 172 Articles
Perempuan Berkisah menerima tulisan dari siapapun yang ingin berbagi kisah seputar isu perempuan, baik isu pendidikan, pemberdayaan, ekonomi, sosial dan isu perempuan di bidang-bidang lainnya. Tulisan dapat dikirim ke perempuan.berkisah@gmail.com. Terimakasih.

Be the first to comment

Leave a Reply