Perlawanan Para Emak Kritis Jaman Now!

Belajar dari para emak bijak nan kritis, keberadaan mereka memang sangat penting untuk saling mengingatkan sekaligus menguatkan. Curhatan dari mereka adalah salah satu bentuk perlawanan. Apalagi bagi para emak yang selama ini perannya sebagai ibu rumah tangga, dinilai seakan kurang penting dan tidak produktif. Melalui sosmed, mereka menuturkan pikirannya sendiri dengan kritis dan tetap asyik disikapi.

Pernah mendengar atau membaca tentang mom’s war? Iya, mom’s war alias perdebatan yang tak pernah usai tentang dua tipe ibu. Masing-masing kubu seakan ingin menunjukkan siapa yang terbaik. Dua kubu ini adalah ibu yang bekerja di luar rumah (working mom) dengan ibu yang bekerja fokus mengurus anak dan rumah tangganya (full mom). Meskipun sebenarnya ibu yang bekerja ini terdiri dari beberapa kategori, ada ibu rumah tangga yang memiliki asisten dan ibu rumah tangga tanpa asisten. Ibu rumah tangga tanpa asisten pun, bisa terbagi lagi. Ada ibu rumah tangga tanpa asisten namun tinggal bersama ibunya dan sanak saudaranya. Ada juga yang hanya bersama anaknya ketika suami bekerja.

Mom’s war tak mungkin mencuat tanpa adanya emak-emak yang kritis. Iya, emak adalah istilah yang cukup populer dan asyik dipakai untuk menyebut ibu-ibu yang sudah memiliki anak. Namun bisa ditujukan untuk ibu yang bekerja di luar rumah maupun fokus untuk rumah tangganya. Para emak ini mereka merupakan sosok kritis. Kritik mereka memiliki cara tersendiri, salah satunya melalui media sosial (medsos), media yang paling mudah dijangkau. Apa yang mereka kritik pun beragam, bukan hanya persoalan rumah tangga, namun juga persoalan sosial khsusunya terkait perempuan. Nah, kali ini perempuanberkisah ingin berbagi beberapa bentuk perlawanan emak-emak kritis di era saat ini atau dikenal “jaman now”.

Seorang Ibu Adalah Diva Sebenarnya

Seseorang pernah mengungkapkan bahwa “Indonesia darurat pelakor”. Indonesia sedang gencar isu dan pemberitaan yang menyebut-nyebut dengan kata pelakor. Pelakor sendiri adalah kata kekinian yang tentu saja tidak baku, singkatan dari perebut laki orang. Hingga orang ketiga ini menyebabkan pecahnya rumah tangga dengan bercerainya pasangan suami istri.

Mengapa pelakor begitu populer? Pasalnya sekarang sudah semakin terbuka dengan statusnya. Namun tentu saja posisi mereka tak mampu menggantikan ibu dari anak-anak suami yang mereka rebut. Pengorbanan dan ketangguhan seorang ibu tetap tak terkalahkan. Seorang ibu tetap nomor satu dan Diva yang sebenarnya bagi anak-anaknya.

Keberanian para pelakor tentu saja mengundang banyak ketegangan terkait siapa yang salah? si pelakor atau suami yang tergoda? Atau justru sang isteri sah yang dipersalahkan. Sungguh rumit, namun serumit-rumitnya masalah pelakor, yakinlah bahwa posisi mereka takkan mampu menggantikan pengorbanan seorang ibu yang menjadi korban penghianatan.

Jangan ditanya seberapa besar pengorbanan seorang ibu. Karena itu sama saja meniadakan keberadaan kita sebagai seorang anak. Di media sosial, para ibu sudah cukup terbuka mengungkapkan pikirannya dengan cara asyik. Termasuk salah satu ibu muda bernama Uswah, yang pernah menuliskan curahan hatinya (curhat) di akun pribadi facebooknya. Curhatan dia memang bukan untuk menyindir pelakor. Namun, dari curhatnya kita semakin jelas bagaimana seorang ibu adalah Diva yang sebenarnya. Seorang ibu selalu memiliki seribu satu macam alasan kenapa dia tidak sewangi para artis yang disebut diva. Ada seribu satu macam alasan kenapa dia harus tangguh dalam segala kondisi.

Curhatan Uswah ini ternyata menarik banyak respon positif, baru beberapa hari sudah ratusan “like”. Uswah adalah seorang ibu muda yang juga bekerja sebagai pengajar di Pesantren Al-Azhar Mojokerto. Berikut adalah curhatan aseli Uswah.

Wanita, ga peduli di bagian negara manapun, kalau statusnya jadi ibu. Dia tanggalkan Divanya, dia tanggalkan princessnya, makan sambil gendong anak, masak sambil ngemong anak, BAB pun sambil digelandoti anak, kalau duit menipis ga cuma waqiah yang dibaca, yasin qulhu dan buku rekening suamipun ikut dibaca.
Wanita, kalau sudah jadi ibu. Ga sempat dandan cantik 24 jam layaknya diva biar siap dibolak-balik kapan aja, jangankan pake lipen mau ke pasar, sudah pake dasterpun kadang lupa pake beha. Ga kramas 3 hari gak kerasa, untung ada kerudung selobok’an di jemuran, tinggal pake. Pulang ke pasar ketemu tetangga, ngobrol tipis-tipis monyong-monyong sekedar ngomongin Ayu Ting Ting kemaren show bareng Rafi Ahmad. Rasan-rasan nggur digawe tombo kepingin, setelah itu kembali lagi ke dapur, bau brambang, bau asap pawon, tengah-tengah masak si bayi pup, cebokin dulu, trus si kakak pulang belepotan lumpur, mandiin dulu.
Wanita, kepala jadi kaki, kaki jadi kepala. Makan yang banyak biar kuat ngerawat suami dan anak-anak, biar tahan banting nerima kenyataan, ga masalah badan jadi melar, yang penting makmur anak-anak ga kelaparan, kesehatan terjaga.
Wanita, sesekali menjadi diva, tapi lebih banyak jadi mbokNdewornya.. Lebih baik jadi MbokNdewor tapi rumah tertata, anak-anak sehat dan kenyang, tidurpun nyenyak semua, suami pulang lahap makannya, suami kenyang kopi tersedia hati jadi tenang, malemnya bisa dibolak-balik.

Tubuhku Adalah Otoritasku

Seorang perempuan, apalagi seorang ibu, mengalami perubahan dalam dirinya adalah hal biasa. Termasuk perubahan pada tubuhnya. Tapi bukan hak bagi yang lain mengatur harus seperti apa seharusnya tubuh perempuan. Anehnya, terkadang upaya mengatur dengan cara nyinyir justru muncul dari sesama perempuan itu sendiri. Apalagi sosmed telah mempermudah upaya nyinyir seseorang. Tanpa berpikir hal sebaliknya jika itu terjadi pada dirinya. Tanpa adanya kesadaran bahwa setiap kondisi perempuan itu berbeda, apalagi jika sudah berumah tangga. Nah, salah satu emak kritis pun tak sedikit yang mulai curhat di medsosnya. Seperti curhat yang diungkapkan oleh ibu muda bernama Fafa Tanutama.

Kisah Fafa ini juga banyak dikutip media. Menurutnya, sebenaranya dia sering iri saat melihat penampilan ibu muda lainnya yang cantik-cantik. Tapi Fafa Tanutama tidak peduli dengan dirinya yang terlihat gendut, hitam, dan sering dibilang mirip pembantu. Ada alasan mengapa Fafa tidak begitu mempedulikan penampilannya sebagai ibu muda. Fafa menjelaskan alasannya pada postingan Facebook yang diunggah pada 12 September 2017.

“Ngeliat ibu2 muda lainnya yang cantik2, sebenernya iri juga
Mau pake cream muka, anak masih suka gigitin muka, ciumin muka, nanti kasian kalo dia makan cream, efeknya muka gw kusam ga cerah, gapapa yang penting dia ga makan cream muka cuma biar gw cakep.
Mau suntik putih, perginya gimana? Suami pulang sore, anak gaada yg jaga, rumah mama jauh, apalagi mertua, jadi deh kulit item kusem ga karuan
Mau nyalon, buat pup lama di kamar mandi aja udah di teriakin anak, kapan mau nyalon?
Makan makanan sehat, bangun tidur langsung masakin anak, lanjut bebenah rumah, mandiin, ganti pempers yg kena pup, inget makan aja selalu di atas jam 12, apalagi waktu buat bikin makanan sehat
Olahraga biar badan kurus + fit, hellow? Anak gw taro di box nya aja udah kejer, maunya di gendong, bentar2 mommy, makan aja kalo ga masakan gw mana mau makan, apalagi gw tinggal olahraga, efeknya? Badan gw gemuk ga karuan. Yaudahlah.
Mau minta duit sama suami biar gigi putih kinclong kaya artis hollywood? Yaampun, gw beli baju 100rb an aja mikir, beli kfc aja mikir, kalo bisa mending masak, stock mie yg banyak, makan mie pake nasi jg ga ada yg tau, yg penting makan, ga tau jg kan suami di tempat kerja makan apa?
Siapa tau dia irit2 makan cuma biar keluarga kecukupan, kasian suami pasti punya banyak kebutuhan dan yg harus di bayarin.
Jadinya? Yaudah terima aja, gw gendut, item, kusem, ga cerah, sering di bilang pembantu kalo gendong anak, sampe kebal di kira suster.
Udahlah terima aja, kalo suami sampe tergoda sama perempuan lain yg lebih cantik, putih, langsing, gw bisa apa? Emang gw cuma segini.
Paling cuma bisa nyalahin diri sendiri, kenapa ga peduli sama penampilan? Kenapa ga bisa cuek ngurus anak? Kenapa anak ga mau di titipin ke orang lain trus lo perawatan? Kenapa lo mau buang2 waktu buat ngerapihin baju suami dari pada meni pedi, kenapa lo mau nahan laper demi makanan anak cepet jadi.
Jadinya ya, terima aja, pasrah aja. Gw memang begini. Ga bisa cuek sama orang lain. Lebih baik cuek sama diri sendiri daripada yg lain terlantar.
Semangat para ibu yang benar2 menjadi ibu. Kalian hebat, kalian kuat, kalian bener2 super hero yang nyata.”

Postingan Fafa Tanutama ini telah mendapat lebih dari 12 ribu share dan 9 ribu like.

Cara Asyik Saling Mengingatkan

Pernah mendengar atau membaca tentang kehidupan artis yang sudah berkeluarga? Pernah dong! Pernah mendengar sesama perempuan menyindir kehidupan artis tersebut? Yah, kehidupan artis seperti Nia Ramadhani pernah benar-benar disindir oleh seseibu dengan bahasa lokal nan asyik. Sindiran seorang ibu itu pun kemudian viral. Namun, bukan itu yang akan diulas perempuanberkisah dalam ulasan ini, namun upaya saling mengingatkan yang dilakukan oleh seorang ibu juga. Intinya, kehidupan seorang artis disindir oleh seorang ibu, lalu sindiran si ibu tersebut viral, sindiran si ibu ini juga ternyata direspon oleh ibu-ibu yang lain. Siapa dia? Mungkin banyak. Namun yang sempat viral juga adalah sindiran seorang ibu bernama Jayaning Hartami.

Berikut adalah respon Jayaning Hartami yang mencoba menjadi penengah.

Well, para emak akhir akhir ini punya bahan obrolan baru, tentang mbak artis yang baru aja lahiran anak ketiga, dipuji teman temannya karena dianggap sebagai Ibu yang bahagia mengasuh anak anaknya. Yang lalu rame rame dinyinyiri karena (konon) si mbak kesehariannya dilayani pembantu dengan jumlah yang bahkan lebih banyak dari anggota keluarga di rumah kita, wkwkwk..
Lalu komen komen pun bertaburan. Kebanyakan suaranya sama, “Yee.. pantesan aja bahagia, pembantunya banyaak..”,
kemudian berlanjut meragukan kemampuan si mbak artis sebagai Ibu dengan nyeletuk, “Halah, ngurus anak tapi pembantunya banyak kayak gitu sih enak. Apa apa dibantuin..”
Daan.. tanpa sadar mulai mengganggap diri sendiri lebih baik dari si mbak, “Coba gue.. Anak empat ga pake ART. Dari pagi sampe malem, semua dipegang sendiri..”
Hey Mak, ketahuilah. Ada dua hal yang sulit buat para kaum emak di dunia ini :
1. Bikin bocah berhenti nagih minta dibacain halo balita.
2. Menjaga diri untuk jadi orang baik, tanpa harus merasa jadi yang paling baik.
Yang pertama itu sih bisa bisanya gw nyelipin iklan aja. Bahahahaha..
Mari bicarakan yang kedua.
Ini tentang rasa. Yang tipiiis sekali dan susah buat diraba. Tentang tinggi hati yang tiba tiba saja muncul ketika melihat orang lain yang hidupnya lebih baik dari kita.
Tentang si mbak artis yang punya anak tiga, dan disupport habis habisan oleh suaminya dengan menyediakan banyak sekali asisten rumah tangga. Lalu membuat kita merasa ada di derajat yang lebih baik dari dia, hanya karena kita mengerjakan semua urusan suami, anak, dan rumah sendirian saja.
Padahal kita ga pernah tau,
Kalau ternyata di mata Allah, si mbak lebih banyak memberikan kebermanfaatan karena bisa berbagi rizqi lewat menggaji banyak ART di rumahnya.
Sementara kita? Sudah sampai mana kebermanfaatannya?
Padahal kita ga pernah tau,
Ternyata dengan semua supporting system yang dia punya, setiap hari dia bisa mengasuh anaknya dengan bahagia. Bisa menjaga emosinya tetap stabil sepanjang hari. Bisa melayani suaminya dengan maksimal.
Sementara kita? Seringkali cuma memberikan energi sisa dan sampah emosi yang bertumpuk karena seharian terlalu lelah. Membuat anak dan suami lebih sering mendapati ibunya dalam versi marah marah. Ah, ini mah saya banget. Hiks hiks..
Dan kita ga pernah tau,
Barangkali dengan kondisinya yang memiliki ART banyak, ia manfaatkan waktu dan tenaga yang ada buat menciptakan suasana rumah yang nyaman ditempati. Berusaha mengatur menu makanan sehat bergizi setiap hari. Dan secara khusus menyempatkan merawat diri, sehingga memberikan pandangan yang menyejukkan buat anak dan suami.
Ah, siapa yang tau kalau dengan semua kemudahan yang dimiliki, ia sungguh sungguh gunakan untuk memenuhi kewajibannya sebagai ibu dan istri dengan sepenuh hati?
Sementara kita? Dimanakah biasanya tumpukkan setrikaan itu kita sumpel sumpelkan saat ada tamu atau mertua datang inspeksi ke rumah, buk ibuk sekalian? Dan daster usang kelahiran taun berapa yang biasa kita pake di depan suami, dengan alasan -yang penting kan nyaman dipake- sodara sodaraah? 😂
Siapa yang jamin kalau kita diberi kondisi mudah serupa, bisa membuat kualitas sebagai istri dan ibu meningkat? Jangan jangan malah bikin kita leha leha seharian di rumah, sambil scrolling akun gosip di instagram 😌 huks. Jangan jangan beneran bakal gitu kalo yang ngalamin aku, wkwkw..
Ayolah,
Setiap kita punya jalan hidupnya sendiri
Yang gak akan pernah bisa disamaratakan kondisinya.
Ada yang merapatkan barisan dengan suami, lalu memilih mengerjakan semua urusan anak dan rumah tangga berdua. Tanpa perlu asisten rumah tangga. Karena bagi mereka, ngucek baju sambil cubit cubitan adalah momen intim yang gak ada duanya..
Ada yang memilih pakai ART untuk mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga yang ada. Karena bagi mereka, energi terbaik harus difokuskan untuk anak dan pasangan. Sedang sisanya, biar dikerjakan orang lain saja..
Ada yang butuh ART tapi kondisi keuangan belum memungkinkan, lalu mereka pun mengambil jalan ikhlas dan sabar. Melatih semua anggota keluarga agar mampu bertanggung jawab untuk menyelesaikan pekerjaan rumah tangga yang ada, bersama sama..
Siapakah yang paling baik diantara ketiganya?
Ndak ada, Mak.
Because every woman has their own battle.
Setiap ibu punya ladang pahalanya tersendiri. Mereka istimewa dengan masing masing jalan hidupnya. Dan kemuliaan mereka tidak ditentukan hanya dengan pakai ART atau tidak.
❤Jayaning Hartami”

Apa yang diungkapkan oleh Jayaning Hartami ini cukup bijak dan mengingatkan kita untuk tetap tenang dan tegar. Bahwa apapun yang terjadi pada kehidupan orang lain, pada akhirnya kita tetap akan bertanggungjawab pada hidup kita sendiri. Jadi, mari tetap fokus pada urusan masing-masing. Sekali lagi, karena kondisi seseorang itu berbeda-beda, bahkan di antaranya cukup rumit dan tidak sesederhana yang terlihat. Namun, belajar dari para emak bijak nan kritis, keberadaan mereka memang sangat penting untuk saling mengingatkan sekaligus menguatkan. Apa yang diungkapkan para emak ini adalah salah satu bentuk perlawanan. Apalagi bagi para emak yang selama ini perannya sebagai ibu rumah tangga kurang dinilai kurang penting dan tidak produktif. Melalui medsos, mereka menuturkan pikirannya sendiri dengan kritis dan tetap asyik disikapi. [red perempuanberkisah]

______

sumber gambar: skin

Kisah Lain

Spread the good inspiration
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.