Kaum Perempuan Desa Sumampir: Menginspirasi Para Lelakinya Jualan Keliling “Jajanan Pasar”

Menjajakan dagangan berupa jajanan pasar kini bukan hanya dilakukan para perempuan di desa. Kaum lelaki pun terdorong untuk melakukan hal yang sama. Iya, pada mulanya hanya perempuan saja yang mau menjajakan jajan pasar. Mereka keliling desa di sekitar Kecamatan Rembang, tapi dua tahun ini menginspirasi para lelaki untuk ikut berdagang keliling juga.

Dikisahkan oleh Ina Farida*

Hari masih gelap, adzan subuh pun belum berkumandang. Namun, di salah satu sudut Desa Sumampir, Kec. Rembang, Purbalingga, terdengar kerumunan ibu-ibu yang sedang sibuk mengantar dan mengambil jajanan pasar. Setiap pagi buta, para perempuan pedagang keliling itu mulai bergegas menjajakan dagangannya. Mereka berasal dari desa Sumampir, namun lokasinya cukup jauh dari pusat pemerintahan desa.

Hawa dingin dan rasa kantuk sudah bukan masalah bagi mereka. Yang penting dapur tetap bisa ngebul. Aktivitas ini juga menjadi aktivitas harian mereka sejak puluhan tahun lalu. Tiap tahun, para perempuan pedagang ini semakin bertambah pula jumlahnya, termasuk para pembuat jajanan pasar.

“Dulu Cuma ada beberapa pembuat jajan dan pedagang saja, semakin kesini semakin banyak orang yang berminat ikut berdagang, jadi jumlah produsen juga semakin ikut bertambah,” kata Soliah (48), salah satu pedagang sekaligus produsen yang sudah hampir 18 tahun berjualan jajan di pasar pagi Desa Sumampir.

Kaum Lelaki pun Terinspirasi Menjajakan “Jajanan Pasar”

Menjajakan dagangan berupa jajanan pasar kini bukan hanya dilakukan para perempuan di desa. Kaum lelaki pun terdorong untuk melakukan hal yang sama. Iya, pada mulanya hanya perempuan saja yang mau menjajakan jajan pasar. Mereka keliling desa di sekitar Kecamatan Rembang, tapi dua tahun ini menginspirasi para lelaki untuk ikut berdagang keliling juga.

perempuan sumampir penjaja “jajanan pasar” (Foto: Ina Farida)

Bahkan kini lokasi yang ditempuh lebih jauh lagi dari sebelumnya. Hal ini dilakukan agar tidak terjadi saling berebut pelanggan sesama pedagang. Tak hanya jajan pasar saja yang mereka jual, aneka sayur siap konsumsi juga mereka dagangkan.

“Dulu gengsi lah jualan di tempat sendiri, tapi setelah di jalani enak usaha di tempat sendiri. Tidak usah merantau jauh-jauh, hasil hampir imbang dan waktunya juga lebih singkat. Berangkat habis subuh dan jam setengah Sembilan sudah pulang lagi,” terang Setiawan (21), yang sudah 3 tahun ikut berjualan keliling.

Seiring bertambah majunya zaman, semakin meningkat pula tuntutan kebutuhan hidup. Seorang perempuan tidak bisa hanya berpangku tangan menunggu nafkah dari suami, tapi juga harus bisa menjadi istri yang bekerja demi membantu suami memenuhi kebutuhan rumah tangga.

“Awalnya suami tidak mengizinkan untuk ikut berdagang. Tetapi saya selalu memberi penjelasan bahwa perempuan harus punya penghasilan sendiri, sehingga jika suatu saat terjadi hal yang tidak di inginkan kita sudah bisa mandiri. Kita juga jadi tidak terlalu menuntut suami untuk memenuhi keinginan kita jika mengingingkan sesuatu,” ungkap Tuweni (31).

perempuan sumampir penjaja “jajanan pasar” (foto: Ina Farida)

“Untuk kendala paling saat anak sakit tidak mau di tinggalkan, jadi kadang terpaksa tidak berangkat,” imbuh ibu satu orang anak ini.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh pedagang keliling lainnya.

“Awalnya tertarik ikut berdagang karena melihat mereka yang sudah terlebih dahulu berdagang. Kayane seneng kalau dagangan laku, kita jadi punya hasil sendiri. Pengin apa-apa bisa sendiri tidak usah minta-minta ke suami. Dan senangnya kita tidak mengalami kerugian saat dagangan tidak laku karena kita kembalikan ke pembutnya,” kata Marliyah, yang mengaku sudah lebih dari 10tahun menjadi pedagang keliling ini.

Dampaknya, perempuan jadi memiliki peran ganda. Selain bekerja ia juga harus mengurus keluarga. Meskipun sebenarnya perubahan peran ini bisa diatasi, namun membutuhkan waktu untuk memperkuat pemahaman tentang relasi laki-laki dan perempuan dalam sebuah rumah tangga.

========

*Tentang Penulis: Ina Farida merupakan Pemudi Desa Sumampir. Selain kreatif dan inovatif, Ina juga perempuan pembelajar dan wirausaha muda di bidang kuliner terutama membuat beragam kue. Bukan hanya senang mengamati realitas sosial di desanya, dia juga aktif merangkul para perempuan di desa dengan beragam kreasinya. Lebih dari itu, dia tak lupa menuliskan pengamatannya di sejumlah media online. Salah satunya menulis di website resmi Komunitas Pena Desa.

Spread the good inspiration
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
About Perempuan Berkisah 106 Articles
Perempuan Berkisah menerima tulisan dari siapapun yang ingin berbagi kisah seputar isu perempuan, baik isu pendidikan, pemberdayaan, ekonomi, sosial dan isu perempuan di bidang-bidang lainnya. Tulisan dapat dikirim ke perempuan.berkisah@gmail.com. Terimakasih.

Be the first to comment

Leave a Reply