Aksi Kolektif Kelompok Dasa Wisma Lubuk Kambing

“Entahlah… Istri kepala desa mengatakan kami anggota Kelompok Dasa Wisma, tapi entahlah… yang pasti dia meminta kami menanam bibit tanaman obat di pekarangan”
(Mardiyah, penduduk Desa Lubuk Kambing)

Dikisahkan oleh Neldysavrino*

 

Petikan kalimat di atas meluncur dari mulut seorang ibu ketika ditanyai apakah ia anggota Kelompok Dasa Wisma. Selintas terlihat gurat keraguan dalam garis wajahnya. Pernyataan serupa juga ditemui pada belasan ibu-ibu di Desa Lubuk Kambing, Kecamatan Merlung yang termasuk wilayah administrasi Kabupaten Tanjung Jabung Barat, yaitu sebuah desa di ujung barat Provinsi Jambi.

Kelompok Dasa Wisma sebagai bagian dari program Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) ternyata belum bermanfaat bagi perempuan Desa Lubuk Kambing. Bukan tidak mungkin hal seperti ini juga terjadi di banyak tempat, apalagi di daerah pelosok atau terpencil. Program Pembinaan Kesejahteraan Keluarga hanya sekedar lembaga formal yang harus ada dan terstruktur dari tingkat pusat hingga desa tanpa terkecuali di Desa Lubuk Kambing.

Desa di Pinggir Hutan

Desa yang terletak sejauh 155 km dari ibu kota Provinsi Jambi ini memiliki luas wilayah 33.640 hektar. Sebagian besar wilayah desa masih berupa hutan, baik hutan produksi maupun hutan lindung dan kebun masyarakat. Kawasan hutan produksi merupakan kawasan hutan bekas Hutan Tanaman Industri (HTI) PT. Inhutani V. Sementara kawasan hutan lindung termasuk ke dalam Taman Nasional Bukit Tiga Puluh.

Layaknya masyarakat desa di sekitar hutan, mereka hidup bergantung pada pemanfaatan dan pengelolaan sumberdaya alam, hutan dan lahan. Namun demikian bertani tanaman karet (Hevea braziliensis) masih menjadi pekerjaan utama masyarakat desa ini, disamping pekerjaan lain seperti pembalakan kayu (bebalok), berdagang dan mengambil hasil hutan, seperti getah jernang (Daemonorops sp.) dan berbagai jenis tanaman rotan.

Kecuali bebalok dan berdagang, mencari getah jernang dan rotan mulai jarang dilakukan karena sulit mendapatkannya di hutan. Menurut masyarakat hal ini akibat rusaknya hutan karena telah ditebangi oleh perusahaan maupun masyarakat desa yang bebalok.

Pendapatan masyarakat dari hasil tanaman karet masih rendah. Penghasilan rata- rata sebesar Rp. 600.000 tiap bulan masih belum cukup memenuhi kebutuhan rumah tangga. “Harga karet bagus, Rp. 4.000 per kilo, tapi hasil sedikit,” begitu alasan yang diungkapkan masyarakat ketika ditanya tentang penghasilan petani karet. Ternyata pola perkebunan karet tradisional yang dilakukan tidak memberikan hasil yang maksimal.

Sebenarnya penghasilan dari bebalok cukup tinggi. “Bisa Rp 100.000,- sehari om!” ungkap Tomi bersemangat ketika ditanya tentang penghasilan dari bebalok.

Hanya saja penghasilan yang disebutkan Tomi tadi ibarat rezeki harimau. Artinya kalau lagi ada rezeki akan dapat uang banyak, namun sebaliknya bila apes tidak mendapat sepeserpun. Selidik punya selidik ternyata bebalok sangat tergantung dengan keadaan musim. Rezeki besar hanya didapat di musim kemarau, sebaliknya nasib malang bila musim penghujan atau sedang marak razia kayu.

Perempuan Desa Lubuk Kambing

Perempuan di desa berpenduduk 4.000 jiwa ini rata-rata hanya mengenyam pendidikan hingga sekolah dasar. Mereka perempuan yang terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah tangga dan bekerja di luar rumah untuk membantu mencukupi nafkah keluarga. Bersama suami mereka ikut menyadap karet, berdagang atau pun menanam padi ladang, meskipun terkadang hasilnya belum mencukupi.

Kenyataannya, beban kerja yang berat tidak membuat mereka berhenti menjalani kehidupan sosial di masyarakat. Budaya patriarki yang berlaku tidak melarang perempuan untuk melakukan berbagai kegiatan sosial, seperti pengajian yasinan, arisan dan lain sebagainya. Namun demikian, dalam hal pengambilan keputusan mutlak ada di tangan laki-laki.

Kegiatan sosial lainnya juga dilakukan lewat Kelompok Dasa Wisma, yang merupakan bagian dari program PKK, sebuah program pemerintah yang telah ada sejak tahun 1972. Berada di bawah kelompok kerja II program PKK, Kelompok Dasa Wisma merupakan kelompok kecil yang terdiri dari 20 orang anggota, yang dibentuk di masing-masing rukun tetangga (RT). Namun sayangnya Kelompok Dasa Wisma sebagai wadah kegiatan untuk peningkatan keterampilan keluarga belum banyak dimanfaatkan oleh perempuan di Desa Lubuk Kambing.

CAPRi dan Kelompok Dasa Wisma Lewat penelitian Collective Action and Property Rights (CAPRi), Fasilitator dan peneliti memberikan perhatian pada kegiatan bersama (aksi kolektif) yang dilakukan masyarakat dalam kelompok-kelompok. Penekanan pada belajar melihat proses bagaimana aksi kolektif atau dikenal dengan kata kerja bersama dilakukan pada kelompok masyarakat yang sudah ada, tanpa membentuk kelompok baru.

Dipilihlah Kelompok Dasa Wisma dan kelompok tani sebagai tempat melakukan penelitian CAPRi. Ada kelompok yang berbeda, mewakili kelompok perempuan dan kelompok laki-laki. Penelitian dilakukan menggunakan pendekatan Participatory Action Research (PAR) atau biasa disebut penelitian aksi bersama. Siklus dari penelitian ini bisa dilihat pada bagan 1. Pada Kelompok Dasa Wisma, pendekatan ini digunakan untuk mengajak anggota kelompok memahami persoalan yang dihadapi dan menemukan solusi dari permasalahan oleh mereka sendiri. Di sini fasilitasi yang dilakukan hanya untuk memandu dan memotivasi anggota kelompok.

Pengalaman bersama Kelompok Dasa Wisma

Bekerja dengan kelompok perempuan di Desa Lubuk Kambing merupakan pengalaman unik. Takut atau malu-malu tampak pada wajah mereka ketika observasi dimulai di pertengahan Februari 2005 lalu. Kebiasaan membatasi diri bergaul dengan laki-laki lain ketika suami tidak di rumah atau rasa tidak percaya diri pada seorang gadis desa menjadi kendala dalam membangun komunikasi.

Kendala ini dapat diatasi dengan meminta bantuan seorang perempuan desa untuk selalu menemani fasilitator pada saat mengobrol dengan perempuan desa. Ketika komunikasi telah dibangun, persoalan Kelompok Dasa Wisma mulai dipahami. Pembentukan Kelompok Dasa Wisma yang tidak aspiratif menjadi persoalan pertama yang diketahui. Alasan tidak tahu tujuan berkelompok dan sulit berkomunikasi sesama anggota karena letak rumah berjauhan, telah mendorong sebagian anggota Kelompok Dasa Wisma menginginkan pembentukan ulang kelompok. Cukup menggembirakan ketika keinginan membentuk ulang Kelompok Dasa Wisma terlaksana dan terbentuk Kelompok Dasa Wisma di masing-masing rukun tetangga.

Sayangnya, tidaklah seluruh Kelompok Dasa Wisma yang telah dibentuk berjalan sesuai dengan tujuan. Kurang paham akan tujuan kegiatan kelompok dan rendahnya minat menyebabkan banyak Kelompok Dasa Wisma berhenti. Kegiatan yang dilakukan hanya sebatas membuat kebun taman obat keluarga (TOGA) untuk menghadapi lomba desa.

Apa yang dilakukan bersama Kelompok Dasa Wisma Rambutan ?

Satu kelompok yang masih menunjukkan minat untuk berkembang adalah Kelompok Dasa Wisma Rambutan. Kelompok inilah yang kemudian menjadi fokus kegiatan penelitian CAPRi. Penelitian ini bertujuan merekam proses kegiatan Kelompok Dasa Wisma Rambutan dalam hal kerjasama anggota.

Proses belajar diawali dengan memperkenalkan pendekatan PAR secara sederhana kepada anggota kelompok. Kelompok diajak memulai kegiatan dengan membuat rencana bersama. Selanjutnya melaksanakan rencana yang telah disepakati atau melakukan aksi. Lalu kelompok diajak melakukan pengawasan dan refleksi, yaitu melihat kembali apa yang telah dilakukan untuk mengetahui sejauh mana rencana berhasil dijalankan. Setelah itu kelompok kembali diajak menentukan rencana baru.

Proses ini berlangsung terus menerus tanpa putus dan dikenal dengan istilah siklus Participatory Action Research (siklus PAR). Melalui diskusi informal hubungan dalam Kelompok Dasa Wisma yang beranggotakan perempuan berusia antara 17-40 tahun ini terbangun. Mengobrol di rumah atau di warung merupakan kegiatan yang sering dilakukan. Karena lebih santai, dari sebuah obrolan muncul banyak ide, pikiran dan gagasan. Selain itu, melalui obrolan informal banyak informasi yang dapat diperoleh anggota kelompok. Hal itu turut membantu membuka wawasan berpikir dan meningkatkan kepercayaan mereka.

Perubahan cara pandang mereka terhadap Kelompok Dasa Wisma memunculkan keinginan menjadikan kelompok ini sebagai wadah kegiatan peningkatan ekonomi rumah tangga. Beberapa ide yang muncul dibahas pada pertemuan kelompok, di antaranya beternak itik, membuat kue, kerajinan tangan, keterampilan menjahit dan rias pengantin. Dari ide-ide ini selanjutnya dipilih satu ide secara bersama oleh anggota Kelompok Dasa Wisma.

Fasilitator CAPRi mengambil peran untuk memfasilitasi proses menggunakan metode penentuan skala prioritas. Indikator sederhana penentuan skala prioritas tersebut adalah ketersediaan sumberdaya dan manfaat. Dari pertemuan itu, beternak itik petelur dipilih sebagai kegiatan bersama yang akan dilakukan oleh Kelompok Dasa Wisma.

Rencana beternak itik petelur telah disusun dan mulai dijalankan. Kegiatan awal yang dilakukan adalah mencari informasi cara beternak itik petelur dan mengumpulkan bahan serta alat yang diperlukan. Anggota mencari langsung informasi beternak itik petelur pada peternak itik di Desa Lubuk Mandarsah, Kecamatan Tebo Tengah Hilir, Kabupaten Tebo. Dengan cara ini informasi yang didapat tidak hanya sebatas teori melainkan melihat langsung cara peternak memelihara itik.

Informasi lainnya berupa buku dan brosur didapat dari Kantor Cabang Dinas Pertanian dan Peternakan Kecamatan Merlung. Mereka juga mendapatkan informasi kredit usaha, tempat mendapatkan bibit itik dan tempat pemasaran serta pengolahan hasil telur itik menjadi telur asin. Selain itu, mereka mendapatkan juga informasi tentang kegiatan-kegiatan Dinas Pertanian dan Peternakan berupa pelatihan, penyuluhan dan pembinaan peternak.

Pengumpulan bahan dan alat yang diperlukan untuk beternak mulai dilakukan. Kelompok Dasa Wisma memanfaatkan bahan-bahan yang terdapat di sekitar mereka, seperti bambu, kayu dan lain sebagainya yang dapat digunakan untuk membuat kandang itik. Pengumpulan bahan dan alat dilakukan secara bergotong-royong oleh anggota kelompok.

Pelajaran dari aksi kolektif pada Kelompok Dasa Wisma

Upaya mewujudkan keinginan beternak itik petelur masih terus berlangsung. Terlalu dini untuk menilai keberhasilan yang diraih. Namun ada pengalaman yang dapat diambil dari apa yang telah dilakukan oleh Kelompok Dasa Wisma, di antaranya:

1. Motivasi dan komitmen kelompok

Motivasi anggota untuk bekerja bersama dalam Kelompok Dasa Wisma masih rendah. Komitmen untuk beternak itik belum sepenuhnya ditepati anggota. Hal ini tercermin dari sedikitnya peserta yang hadir di setiap pertemuan, antara 7-12 orang. Alasan yang selalu dilontarkan oleh ibu-ibu adalah karena sibuk mengurus rumah tangga.

Rendahnya motivasi dan komitmen perempuan yang dilihat dari kehadiran dalam pertemuan, dapat dijadikan suatu parameter betapa beban kerja perempuan cukup berat. Alasan sibuk mengurus keluarga bukan tidak mungkin adalah alasan yang sebenarnya, apalagi kenyataannya sebagian dari perempuan di Desa Lubuk Kambing juga bekerja untuk menopang ekonomi keluarga.

Pada kondisi ini dapat dibenarkan betapa sulitnya perempuan meluangkan waktu untuk berkumpul, apalagi untuk suatu kegiatan yang mereka sendiri belum yakin akan manfaat kegiatan tersebut bagi mereka. Sehingga selain motivasi, kepastian akan suatu kegiatan bersama menjadi penting. Untuk mencapai kepastian tersebut diperlukan informasi yang memadai tentang apa yang sedang kelompok lakukan.

2. Keyakinan untuk mencapai tujuan

Sebenarnya anggota kelompok memiliki keyakinan bahwa dengan berkelompok tujuan mereka akan lebih mudah dicapai. Pengalaman kehidupan mereka sehari-hari mengajarkan pada mereka bahwa dengan berkelompok akan lebih mudah mencapai tujuan, seperti yang tercermin pada kegiatan gotong-royong untuk persiapan penanaman padi ladang.

Keraguan yang muncul dalam kelompok atas rencana beternak itik petelur adalah masalah modal dan keterampilan yang mereka miliki. Alasan munculnya keraguan tersebut karena kondisi ekonomi anggota Kelompok Dasa Wisma rata-rata masih rendah sehingga sulit untuk mengeluarkan modal beternak. Selain itu mereka belum sepenuhnya menguasai keterampilan beternak itik.

Upaya menepis keraguan anggota Kelompok Dasa Wisma dilakukan dengan terus meyakinkan mereka bahwa melalui kerja bersama dalam kelompok mereka dapat mencari jalan keluar dari persoalan yang dihadapi. Untuk keluar dari persoalan modal mereka sepakat menempuh dua cara, yaitu melalui swadaya dan memperoleh modal dalam bentuk pinjaman. Sedangkan untuk mengatasi persoalan keterampilan beternak itik dilakukan dengan memperluas masukan informasi bagi kelompok, terutama informasi beternak itik petelur secara lengkap.

Studi banding ke tempat lain bisa juga menjadi solusi atas masalah ini. Kendala dalam berkelompok Kendala yang ditemui perempuan untuk melakukan kegiatan kelompok adalah persoalan membagi dan mengelola waktu. Mereka sering kesulitan membagi dan mengelola waktu antara tugas rumah tangga dengan kegiatan-kegiatan sosial di luar rumah. Tidak dapat dipungkiri banyak ibu-ibu yang tidak mempunyai cukup waktu untuk berkumpul karena harus bekerja dan mengasuh anak, apalagi umumnya mereka mempunyai anak balita.

Kendala lain yang juga ditemui dalam mewujudkan keinginan beternak itik adalah kesibukan perempuan pada penanaman padi ladang. Kegiatan penanaman dan pemeliharaan padi ladang menyita seluruh waktu perempuan, hingga terkadang mereka harus berdiam di lahan. Dapat dikatakan, selama musim penanaman padi ladang, perempuan tidak lagi mempunyai waktu untuk melakukan kegiatan bersama dalam Kelompok Dasa Wisma.[]

============
Bahan Bacaan
Kantor BPS Kabupaten Tanjung Jabung Barat. 2003. Kecamatan Merlung Dalam Angka Tahun 2003.
Pemda Kabupaten Tanjung Jabung Barat. Jambi, Indonesia.
Pemda Kabupaten Tanjung Jabung Barat. 2003. Sejarah dan Prestasi Singkat Pembinaan Kesejahteraan
Keluarga Tingkat Nasional. http://jambi.wasantara.net.id/tungkal/pmrt/pkk.htm (8 Sep 2005).

=========

Tentang Penulis: Neldysavrino lahir di Jambi, 4 Oktober 1970, dari pasangan H. Erman Imran dan Rosna Erman. Penulis menamatkan seluruh jenjang pendidikan di Kotamadya Jambi dan memperoleh gelar sarjana pertanian dari Universitas Jambi. Pengamalan kerja di dunia LSM mulai digelutinya sejak 1999 bersama Yayasan WARSI untuk proyek Integrated Conservation and Development Project (ICDP-TNKS) hingga 2001. Selanjutnya penulis bekerja pada beberapa proyek-proyek jangka pendek dari Yayasan Gita Buana Jambi dan BirdLife Indonesia. Sejak awal 2005 hingga saat ini penulis bekerja untuk program Collective Action and Property Right (CAPRi)– CIFOR. Tulisan Neldysavrino dengan judul aseli “Aksi Kolektif Perempuan Kelompok Dasa Wisma”, serta sejumlah kisah inspiratif dari penulis lainnya dapat dibaca di buku “Dari Desa ke Desa: Dinamika Gender dan Kekayaan Alam”

Spread the good inspiration
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
About Perempuan Berkisah 106 Articles
Perempuan Berkisah menerima tulisan dari siapapun yang ingin berbagi kisah seputar isu perempuan, baik isu pendidikan, pemberdayaan, ekonomi, sosial dan isu perempuan di bidang-bidang lainnya. Tulisan dapat dikirim ke perempuan.berkisah@gmail.com. Terimakasih.

Be the first to comment

Leave a Reply