Agar Tak Ada Lagi Korban Kekerasan, Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Beberapa peran pencegahan dan perlindungan di antaranya bisa dimulai dari proses pengorganisasian komunitas (masyarakat), lalu membangun jaringan, menyelenggarakan pertemuan-pertemuan untuk saling memperkuat kapasitas, hingga mendukung munculnya kebijakan lokal anti diskriminasi terhadap perempuan.

Dikisahkan oleh Alimah Fauzan*

Rasanya sudah tak terhitung lagi kabar kekerasan, pelecehan seksual, pemerkosaan, pembunuhan terhadap perempuan dan sekian peristiwa keji yang menimpa perempuan. Beragam media pun sudah begitu banyak memberitakannya, terutama pemberitaan tentang pembunuhan terhadap perempuan.

Kita juga pernah digemparkan dengan kabar kematian seorang perempuan mapan dan berpendidikan, dibunuh tunangannya sendiri, yang juga mapan dan berpendidikan tinggi. Sebelum ini, sudah banyak pemberitaan seorang isteri dibunuh suaminya dengan cara-cara yang sangat tidak manusiawi. Di luar kedua relasi itu, ada banyak kasus anak perempuan diperkosa dan dibunuh dengan cara-cara yang sadis, baik oleh orang terdekatnya maupun orang tak dikenal.

Melalui artikel ini, saya tidak mampu menceritakan secara detail bagaimana proses pembunuhan terjadi. Pun tak pernah tega untuk membagi pemberitaan yang beredar. Apalagi pemberitaan dengan gaya jurnalistik yang tidak berpihak pada korban. Pemberitaan yang pada akhirnya memicu pro kontra. Lebih dari itu, perempuan yang sudah jelas sebagai korban dan sudah tidak bernyawa, masih diungkit pribadinya secara terus menerus. Begitu pun masyarakat kita yang masih kuat dengan budaya patriarkhis, bukan empati yang disampaikan namun cacian. Bahkan oleh sesama perempuan sendiri.

Saya lebih memilih untuk menuliskan bentuk empati dan duka saya di Perempuan Berkisah. Lebih dari itu, menawarkan gagasan apa yang paling memungkinkan dan bisa kita lakukan di lingkungan kita. Atau setidaknya mengubah cara pandang kita, serta mengasah keberpihakan kita sesama perempuan. Hingga kita siap berada di tengah beragam sudut pandang patriarkat.

Benar, berhadapan dengan sejumlah persoalan perempuan tidak cukup hanya membaca di media. Karena persoalan itu bisa saja kita temukan dalam rumah tangga kita sendiri, dan lingkungan kerja kita. Apalagi kerja-kerja sosial yang bersentuhan langsung dengan masyarakat dan sejumlah persoalan sosialnya.

Beberapa perempuan korban yang pernah saya temukan di antaranya adalah anak perempuan yang dipaksa melakukan tes keperawanan oleh pihak sekolah. Hingga akhirnya berdampak fatal pada kesehatan fisik (alat reproduksinya) dan psikologisnya. Juga anak perempuan korban perdagangan manusia yang telah dipulangkan ke rumah, namun ingin kembali ke tempat prostitusi, karena pandangan negatif yang dilemparkan masyarakat pada dirinya. Serta sekian persoalan perempuan korban kekerasan, pelecehan seksual, pemerkosaan dan pembunuhan yang terus menerus.

Siapa Sesungguhnya Korban dan Mengapa Perempuan?

Lalu siapa sesungguhnya korban? Apakah individu atau kah menyangkut sekelompok orang? Dalam pemahaman yang umum, korban adalah mereka yang secara langsung merasakan akibat dari suatu perbuatan. Namun jika kita mengikuti definisi yang dirumuskan dalam Deklarasi Prinsip Dasar Keadilan bagi Korban Kejahatan dan Penyalahgunaan Kekuasaan adalah: “orang yang secara individual maupun kelompok telah menderita kerugian, termasuk cedera fisik maupun mental, penderitaan emosional, kerugian ekonomi atau perampasan yang nyata terhadap hak-hak dasarnya, baik karena tindakan (by act) maupun karena kelalaian (by omission)”.

Dari gambaran definisi di atas, tergambarkan bahwa korban bukan saja individual tetapi juga menyangkut kelompok dalam masyarakat. Korban mencakup orang-orang yang secara tidak langsung menjadi korban, seperti keluarga korban, orang-orang yang menjadi tanggungannya, atau orang dekatnya, serta orang-orang yang membantu atau mencegah agar tidak terjadi korban.

Pada umumnya, perempuan maupun anak korban kekerasan dan kejahatan lainnya masih kurang mendapatkan perhatian serius. Apalagi jika menyangkut pemenuhan hak-haknya, hal itu dipastikan tidak akan terpenuhi. Pada umumnya, para korban dibutuhkan ketika aparat pemerintah membutuhkan mereka sebagai saksi dalam kasus-kasus kriminal, di situlah korban begitu penting, di luar itu mereka tetap tidak dipedulikan.

Posisi korban yang begitu banyak penderitaannya sesungguhnya dialami oleh banyak perempuan di republik ini. Walaupun kaum lelaki terkadang juga menjadi korban, tetapi jumlahnya tidak begitu banyak jika dibandingkan dengan kaum perempuan.

Kaum perempuan terus menjadi korban disebabkan oleh banyak faktor yang melingkupinya. Mulai dari aturan hukum yang diskriminatif, sistem sosial yang cenderung bias gender, serta aturan adat yang sangat patriarkhis, belum lagi hal-hal yang menyangkut peran mereka dalam kehidupan masyarakat. Perempuan dipinggirkan (marjinalisasi) dalam banyak hal. Mulai dari pendidikan, kesehatan, pekerjaan, upah hingga soal politik selalu menempatkan perempuan sebagai subordinat laki-laki, akibatnya mereka terus menjadi korban.

Mengemas Isu Perempuan Menjadi Isu Strategis

Lalu ketika pemerintah belum mampu melindungi bahkan memenuhi hak-hak korban, apa yang paling bisa dilakukan oleh kita? Setidaknya, ada kelompok kerja yang dapat memainkan peran penting untuk mewujudkan pemenuhan terhadap hak-hak perempuan. Agar setiap orang termasuk pemerintah dan aparatnya tidak melakukan perbuatan diskriminasi, tidak adil dan tidak sewenang-wenang. Walaupun sesungguhnya peran tersebut juga dapat dilakukan oleh organisasi atau lembaga lain, atau perseorangan yang ingin melindungi korban atau menegakkan hak kaum perempuan.

Beberapa peran pencegahan dan perlindungan di antaranya bisa dimulai dari proses pengorganisasian komunitas (masyarakat), lalu membangun jaringan, menyelenggarakan pertemuan-pertemuan untuk saling memperkuat kapasitas, hingga mendukung munculnya kebijakan lokal anti diskriminasi terhadap perempuan.

Dalam pengorganisasian komunitas, dibutuhkan keterlibatan banyak pihak peduli terhadap isu perempuan. Karena itu sebelum pengorganisasian, dibutuhkan tema atau isu yang menarik keinginan perempuan untuk ikut terlibat di dalamnya. Namun dari sekian banyaknya isu, tidak semuanya diprioritaskan.

Apa saja isu yang diprioritaskan? Yaitu isu penting dan mendesak, dan berdampak positif bagi perubahan-perubahan di masyarakat. Dengan mengemas isu strategis ini secara sistematis, maka otomatis dukungan akan mengalir dari banyak stakeholder. Yang perlu diingat dari pengorganisasian massa bahwa, kekuatan massa adalah faktor yang sangat menentukan. Sehingga kuantitas massa sangat diperhitungkan.

Memanfaatkan basis dukungan dalam komunitas membutuhkan orang-orang yang kuat secara perspektif, tidak mudah menyerah terhadap sikap apatis masyarakat dan punya daya juang yang tinggi. Sehingga mampu mengemas isu perempuan agar menjadi isu strategis, dengan memanfaatkan berbagai macam pertemuan informal lainnya, serta memiliki tim atau person yang mampu membangkitkan kepedulian terhadap persoalan-persoalan perempuan dalam wilayahnya.

===

Tentang Penulis: Alimah Fauzan adalah seorang blogger dan pemerhati isu perempuan. Alimah dapat dihubungi melalui email: alimah.fauzan@gmail.com; serta beberapa ceritanya dapat dibaca di www.alimahfauzan.id .

sumber gambar: stop kekerasan terhadap perempuan

Spread the good inspiration
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.