Sisterhood & Bisnis Fashion: Penyambung Jalinan Ekonomi Antar Perempuan

Pertemanan perempuan (Sisterhood) ini masif, tak hanya satu dua orang perempuan. Mereka saling kopi darat, berkenalan, menjalin pertemanan sekaligus hubungan bisnis yang hangat penuh keceriaan khas perempuan. Kadang mereka juga hangout atau sekadar ngopi bareng di tempat kece tanpa harus sewa, tentu dengan tujuan salah satunya adalah memperkenalkan produk teman-teman mereka. Satu hal yang bisa melampaui tujuan dari sisterhood yaitu pemberdayaan perempuan, bahwa kita sama-sama menunggu kelak suatu saat konsep sisterhood ini bisa menjadi penyambung jalinan ekonomi antar perempuan.

Dikisahkan oleh Ecka Pramita*

 

No matter how good or bad your life wake up each morning and be thankful that you still have one…..

Pernah mendengar kutipan di atas? Bagi kalangan tertentu khususnya mereka yang memiliki ketertarikan pada dunia fashion, kutipan tersebut bukan sekadar kalimat inspiratif. Dalam dunia fashion, kutipan tersebut juga dilengkapi dengan tujuan mempromosikan suatu produk namun tetap terkesan alami, ini biasanya disebut dengan istilah endorse outfit. Mulai dari atasan hingga sepatu yang dikenakan.

Pada umumnya, sebuah produk akan dipajang di upload seseorang terutama di akun media sosialnya (Medsos). Siapa saja mereka? Mereka bukan artis atau publik figur yang populer muncul di televisi, namun memiliki pengarauh tertentu dalam mempromosikan sebuah produk. Biasanya, mereka memiliki pengikut (follower) yang sudah cukup banyak. Sosok mereka juga biasaya populer disebut sebagai social media influencer atau sosok yang memiliki pengaruh di Medsos. Produk yang mereka promosikan biasanya adalah produk di kalangan teman mereka sendiri yang berbisnis fashion hijab atau modest wear.

Di luar untuk tujuan komersil, biasanya mereka juga membeli produk tersebut dan dipakai sendiri secara sukacita. Lalu, mereka akan mengunggahya di medsos mereka seperti di Instagram agar para pengikut mereka tertarik pada produk yang mereka kenakan. Jika untuk tujuan komersil, mereka biasanya diberi produk khusus untuk sengaja diunggah.

Jadi, tak heran jika kita kerap menemui foto-foto yang eye catching dengan ragam mode dan motif, seperti runaway di dunia maya. Agaknya idiom “saya adalah model dan dimana pun adalah panggung” sangat cocok disematkan untuk.

Brand Lokal dan Konsumen Loyal

Atina Maulia & Intan Kusuma Fauzia, adik dan kakak sosok di balik Vanilla Hijab. (doc: okezone.com)

Saat ini tak bisa kita mungkiri, Instagram sekadar medsos memamerkan foto. Lebih dari itu, instagram juga menjadi etalase hidup untuk menyampaikan pesan pemberdayaan (empowerment) bagi perempuan. Bagaimana bisa?

Kita bisa cek beberapa akun online shop yang banyak dikelola oleh perempuan. Khususnya yang mereka mulai sendiri desain, produksi, promosi dan distribusikan sendiri? Sebut saja misalnya “Vanila Hijab”, saking banyaknya pengikut hingga mempunyai “Vanila Sister” beranggotakan konsumen setia mereka (loyal customer). Brand dengan jumlah follower yang telah mencapai ratusan ribu, ini digawangi dua perempuan muda yang merupakan dua bersaudara (kakak-adik).

Selain “Vanilla Hijab”, ada juga brand “Wearing Klamby” yang tak kalah populer. Sama-sama punya konsep fashion hijab printed dengan pemilik yang juga masih belia. Seorang mamah muda yang baru berusia 24 tahun dan bukan dengan latar belakang pendidikan fashion designer. Dari yang awalnya hanya punya 3 penjahit, kini berkembang hingga memiliki sekitar 60 karyawan dan punya ruang produksi sendiri.

Sederet ilustrasi di atas sekadar brand lokal, belum jika kita bicara fashion designer yang sudah masuk level internasional, mulai ajang Jakarta Fashion Week bahkan Dubai dan New York Fashion Week. Sebut saja ada Dian Pelangi, Ria Miranda, Jenahara Nasution, Restu Anggraini, dan lain-lain

Vanila dan Klamby masing-masing punya loyal customer yang selalu menunggu desain aseli buatan mereka (signature) dan koleksi yang mereka luncurkan (launching). Sumber daya tersebut tak serta merta ada, melainkan mewujud sebagai support system yang membuat bisnis perempuan makin punya tempat di hati pelanggannya. Dengan modal yang awalnya tak seberapa tapi punya passion, itulah awal semangat merintis hingga berkembang seperti saat ini.

Kepercayaan dan Loyalitas

Usia boleh muda, tetapi soal bisnis, mereka sudah mampu menghidupi banyak sumber daya. Mulai dari tukang jahit sampai desain grafis, mulai social media executive hingga brand ambasador/muse. Satu lagi, saking kewalahan mereka melayani para konsumen loyal, peran jasa titip atau jastip juga menjadi berarti. Menarik kan?

Contoh produk vanillah hijab (Doc: www.itjeher.com)

Sisterhood ini masif, tak hanya satu dua orang perempuan. Mereka saling kopi darat, berkenalan, menjalin pertemanan sekaligus hubungan bisnis yang hangat penuh keceriaan khas perempuan. Kadang mereka juga hangout atau sekadar ngopi bareng di tempat kece tanpa harus sewa, tentu dengan tujuan salah satunya adalah memperkenalkan produk teman-teman mereka. Kebayang dong kalau para online shop meng-hire model profesioal, tentu butuh ekstra biaya lebih besar.

Sisterhood atau pertemanan yang mereka bangun, tak hanya membuat pemilik bisnis beruntung, tetapi mereka juga ikut mendukung pemberdayaan perempuan. Apalagi jika mereka sudah punya banyak follower bahkan fans, apapun yang dikenakan sang model menjadi trendsetter bagi penggemarnya.

Sebagai contoh lagi, setelah produsen pun sang model diuntungkan, konsumen pun juga merasa percaya diri karena selera mereka tak berbeda dengan sang model. Siapa lagi yang akan mendukung bisnis perempuan jika bukan perempuan itu sendiri atau women support women. Benar kan?

Sisterhood dalam berbisnis bagi perempuan adalah keniscayaan. Bagi perempuan, bisnis tak sekadar mendapat profit secara kuantitatif. Ada hal penting yang selalu mereka jaga, yakni kepercayaan dan loyalitas yang hanya mereka bisa dapatkan jika berteman!

Satu hal yang bisa melampaui tujuan dari sisterhood yaitu pemberdayaan perempuan, bahwa kita sama-sama menunggu kelak suatu saat konsep sisterhood ini bisa menjadi penyambung jalinan ekonomi antar perempuan. Meluas hingga tak ada lagi celah menerima berbagai informasi yang belum tentu kebenarannya, dan justru bisa menjatuhkan mereka. Maka, ketika situasi ekonomi sudah aman, perempuan makin berdaya, dengan sendirinya wajah perdamaian tak lagi menjadi harapan tetapi nyata. []

=======

Keterangan Penulis:

 

Ecka Pramita adalah Freelance Journalist, Penikmat Kopi dan Kuliner Nusantara. Ecka bisa dihubungi melalui email: eckapramita@gmail.com.

Sumber gambar: vanilla hijab

Kisah Lain

Spread the good inspiration
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.