Tubuh Perempuan Bukanlah Lelucon

Tubuh perempuan maupun lelaki bukanlah sebuah lelucon seksual, kita harus menghentikannya atau setidaknya mengurangi lelucon atas tubuh manusia mulai dari diri kita sendiri. 

Dikisahkan oleh Karen Hartono*

Suatu hari saya pernah menonton video stand-up comedy di luar negeri yang dilakukan oleh komedian berinisial CR. Sosok CR memang kontroversial, melalui lelucon seksisnya, dia sering membandingkan perempuan dan lelaki. Semua penonton tertawa saat dia memulai leluconnya dengan membahas bagian sensitif tubuh perempuan. Ia membahas ada perempuan yang memiliki payudara kencang, kendor, dan semua penonton tertawa lebar, bahkan banyak perempuan yang ikut tertawa. Tidak berhenti sampai si situ saja, ia melanjutkan leluconnya dengan membahas perempuan harus memiliki body yang sexy jika ingin memuaskan pasangannya, dan semua ikut tertawa.

Terkadang, tanpa disadari kita memberikan approval, bahwa lelucon mengenai tubuh perempuan itu adalah hal yang tidak salah untuk dilakukan. Ketika menonton video tersebut, saya bingung dimana letak lucunya dari lelucon tersebut. Saya tidak merasa terhibur melainkan merasa tidak nyaman dan kesal akan lelucon yang disampaikan. Apa lucunya tubuh perempuan sampai ditertawai dengan penuh kebahagian? Apakah ada kepuasan tersendirinya dengan menertawakan tubuh perempuan? Saya merasa bahwa tubuh perempuan bukanlah sesuatu yang dapat di objektifikasi, melainkan hal yang harusnya kita hormati.

Semua pasti tertawa ketika membahas tentang bagian-bagian tubuh seorang perempuan. Sudah menjadi hal biasa untuk menertawakan tubuh perempuan seolah tubuh perempuan merupakan objek hiburan semata. Semua selalu tertawa ketika membuat lelucon terkait dengan payudara, yang sudah dianggap biasa. Seringkali lelucon mengenai tubuh perempuan berkaitan dengan ukuran, yang membandingan satu perempuan dengan yang lainnya, serupa perempuan merupakan sebuah objek yang dapat dibanding-bandingkan. Hal tersebut sudah menjadi hal yang biasa, karena memang sudah sering tertera pada lirik lagu, music video, branding iklan, yang menonjolkan tubuh wanita sebagai aset dalam marketing mereka. Seiring berjalannya waktu, sudah akan menjadi lebih biasa lelucon seksis, dan mungkin tanpa disadari kita juga sudah menertawakan atau ikut serta dalam lelucon tersebut.

Bagaimana Harus Bersikap?

Belum begitu banyak perempuan yang bersikap tegas atas pelecehan seksual yang menimpanya. Ini sangat dipahami karena persoalan ini begitu sensitif dan membutuhkan kekuatan untuk menindak tegas perbuatan pelaku. Apalagi di tengah beragam media baru seperti media sosial (medsos), pelecehan bisa dialami melalui kata-kata tertulis, khususnya pada tubuh perempuan. Yang sempat viral adalah contoh pengakuan Via Vallen, salah satu penyanyi dangdut populer Indonesia.

Melalui fitur Instagram Story miliknya (@viavallen), penyanyi asal Surabaya ini mengungkapkan pesan yang melecehkannya. Pesan tersebut tertulis seperti ini: “I want you sign for me in my bedroom, wearing sexy clothes.” Meskipun sampai saat ini belum diketahui pasti siapa pelaku yang dimaksud, namun sikap Via Vallen patut diapresiasi. Karena bagi perempuan di tengah budaya yang masih sering menyalahkan korban, seorang korban apalagi perempuan butuh kekuatan dan dukungan besar untuk berani mengungkapkan kepada publik atas persoalan yang (B.A.Fadhil, Jawa Pos, 05/06/2018)

Banyak orang yang masih memiliki prasangka bahwa lelucon seksual yang tidak dilakukan secara fisik bukan bagian dari pelecehan seksual. Tetap itu salah, tentu itu merupakan salah satu bentuk pelecehan seksual. Ketika seorang perempuan maupun laki-laki merasa tidak nyaman dan risih akan ucapan seksual atau lelucon seksual yang tertuju pada dirinya sudah termasuk bentuk dari pelecehan seksual.

Dengan menggunakan tubuh perempuan sebagai bahan lelucon, sama saja dengan menormalisasi seksisme atas perempuan. Lelucon mengenai hal-hal yang berbau seksual sudah dianggap biasa dan memang sudah dibiasakan oleh masyarakat, bahwa hal tersebut merupakan hal yang tidak berbahaya. Tanpa diketahui hal tersebut dapat berperan besar dalam mentalitas seorang perempuan, dimana perempuan sudah menganggap bahwa lelucon tersebut adalah hal yang biasa dan menurunkan standar toleransi pada seskisme terhadap perempuan.

Selain saya, mungkin masyarakat tanpa sadar sering menemukan video atau acara TV show lainnya, lalu tanpa sadar kita terlena ikut menertawakan lelucon seksual sebagai bagian dari hiburan. Kini saatnya kita mulai membiasakan diri kita untuk tidak menerima lelucon-lelucan seksual tersebut, baik yang ditujukan untuk perempuan maupun lelaki. Kita bisa menghentikan normalisasi lelucon seksual di masyarakat dengan langkah berikut ini:

Cara Mengurangi Normalisasi Lelucon Seksual

Pertama, kita harus berani menengur jika mendengar seseorang membuat lelucon seksual.

Dengan cara menengur, kita menyebarluaskan bahwa lelucon seksual merupakan hal yang tidak sopan, dan tidak boleh dibiasakan di masyarakat.

Kedua, jika kita menjadi korban bahan lelucon seksual jangan takut untuk melaporkan pihak berwenang.

Ketika kita merasa tidak nyaman dengan apa yang orang lain katakan kepada kita, apalagi terkait dengan tubuh kita, jangan takut untuk melapor. Karena dengan tindakan tersebut kita sudah berani membuka suara dan menjadi perwakilan bagi perempuan lainnya yang takut untuk bersuara.

Ketiga, kita harus menormalisasikan membahas tentang pelecehan seksual yang terjadi di masyakarat.

Hal tersebut masih jarang sekali dijadikan percakapan sehari-hari padahal hal tersebut terjadi setiap harinya pada ratusan ribu perempuan di dunia. Kita harus mengangkat topik tersebut untuk lebih dibahas di masyarakat, untuk memberikan edukasi lebih terhadap topik pelecehan seksual.

Jika kita dapat mengurangi lelucon seksual di masyarakat, akankah dunia menjadi lebih aman dan tentram bagi para perempuan? Tidak ada lagi rasa takut untuk jalan sendiri di malam hari, menggunakan transportasi umum sendiri. Perempuan tentunya akan merasa lebih aman dan dihargai.

=========
Tentang Penulis: Karen Hartono adalah Mahasiswi Komunikasi, Universitas Bina Nusantara (Binus) Jakarta. 

 

Sumber gambar: pixabay

Kisah Lain

Spread the good inspiration
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.