Memahami Kualitas Diri Perempuan dan Cara Meningkatkannya

“Kamu yang tercipta, bukan karena tak sengaja, hadir bukan karena kesalahan, namun sebagai wujud kebahagiaan sadarlah bahwa kamu berharga”

Dikisahkan oleh Claudia Angelita*

Suatu ketika, saya diberi kesempatan untuk berbincang bersama para perempuan luar biasa di bidangnya. Pertama kali menjejakkan kaki di ruangan tersebut, sekujur tubuh saya langsung terasa hangat, senyum ramah mereka menyapaku. Kala itu, cuaca juga tengah bersahabat dan dan memudahkan kami untuk saling mengenal dan memulai percakapan satu sama lain.

Di tengah suasana yang ceria dan penuh semangat, tiba-tiba seorang perempuan muda mencuri perhatianku, dengan wajahnya yang tampak kelelahan dan muram. Tidak menunggu lama hingga akhirnya kuberanikan diri untuk memulai percakapan bersama perempuan itu, dia masih muda, usianya sekitar 22 tahun, namun ia sudah cukup berhasil di bidang entrepreneur. Yah, dia mengembangkan bisnis patisserie-nya yang saat ini cukup banyak dikenal masyarakat. Saat membicarakan bisnisnya, ia tampak penuh semangat dan antusias, mamun saat percakapan berganti mengenai dirinya, ia tampak mulai kehilangan minat dan gairah.

Krisis Identitas

Setelah melalui berbagai topik perbincangan, akhirnya ia mulai membuka diri bahwa ia tengah mengalami krisis identitas dan kepercayaan diri. Sudah setahun sejak terakhir kali ia mulai membangun hubungan dengan seorang lelaki. Setiap hubungan yang ia lalui selalu berakhir dengan luka, alasan yang dilontarkan sang lelaki selalu berujung pada percekcokan dan perselingkuhan. Perempuan muda ini merasa selalu dicampakkan karena dirinya yang tidak pantas dan masih kurang. Posisi dia sebagai perempuan mapan, paras rupawan, pun tak menjamin hidupnya bahagia atau dihargai seorang lelaki. Luka tersebut terus menumpuk hingga membuatnya tidak memiliki kepercayaan diri lagi, merasa tidak pantas bahagia dan tidak mampu mencari pendamping sejati.

Mendengar jawaban tersebut, saya mulai menyadari, bahwa tidak sedikit perempuan yang merasa kehilangan harga dirinya, hanya karena pengalaman pahit dan sekian cemoohan orang lain yang masih membekas dalam memorinya. Namun bagiku, apa yang terjadi padanya tak bisa dijadikan alasan bahwa ia tidak berharga.

Satu saat saya pernah melihat ilustrasi seorang lelaki yang mengeluarkan uang senilai 100.000 dan bertanya pada penonton apakah ada yang menginginkannya? Penonton mulai mengangkat tangan dengan antusias, lalu ia mulai menginjak uang tersebut dan kembali bertanya apa kah ada yang masih mengingkannya? Namun tetap saja, kerumunan penonton tidak berkurang dan masih mengangkat tangan dengan antusias. Setelahnya ia merobek uang tersebut, ia kembali bertanya apakah masih ada yang menginginkannya? Ternyata, antusias penonton kembali tidak berkurang untuk mendapatkan uang tersebut. Walaupun uang tersebut sudah diinjak dan disobek, tidak akan menghilangkan nilainya, ia tetap uang 100.000.

Sama halnya dengan harga diri kita, perlakuan-perlakuan yang tidak menyenangkan, kata-kata yang menyakitkan, luka yang pernah kita rasakan, tidak akan pernah menghilangkan nilai dan harga diri kita, kita tetaplah berharga. Perlakuan beberapa orang dalam hidup kita tidak akan menentukan nilai kita sebagai seorang perempuan. Sejatinya kita selalu membutuhkan pendamping untuk saling mengisi dan melengkapi. Namun, bila ingin mendapatkan sebuah kebahagiaan yang sempurna, tak perlulah kehadiran seorang pendamping. Oleh karena itu, kekurangan dan kesalahan yang pernah terjadi bukan alasan untuk membatasi masa depan, namun sebagai wadah agar kita mulai memperbaiki diri dan menemukan pendamping sejati.

Lalu, bagaimana kah cara agar kita (perempuan) mampu meningkatkan kualitas diri?

Ada berbagai macam cara untuk meningkatkan kualitas diri, tentang siapa diri kita menentukan cara kita memandang segala sesuatu. Kita tidak dapat memisahkan identitas dari sudut pandang pribadi. Pengetahuan dan pengalaman memengaruhi cara memandang segala hal. Itulah Cermin diri.

Fokus yang Benar dan Membuang Fokus yang Salah

Salah satu cara untuk meningkatkan kualitas diri dimulai dari hati nurani, seperti belajar mengetahui fokus yang benar dan yang salah.

Fokus yang benar

Melalui fokus yang benar, masalah yang datang dalam hidup kita akan menjadi batu loncatan dan media untuk mulai menyadari dan memperbaiki apa yang menjadi kekurangan kita. Salah satu contoh fokus yang benar adalah ketika kita sedang berada dalam masalah bersama pasangan kita, kita akan diberikan pilihan untuk menghakimi atau mulai mengintropeksi diri. Kita juga dapat mencari tahu diri kita sendiri, apakah kita sudah cukup benar untuk menghakimi atau sadar akan kesalahan sendiri, lalu mulai melangkah bersama ke arah yang lebih baik.

Fokus yang salah

Dalam fokus yang salah, segala permasalahan yang terjadi terlihat hanya dalam satu sudut pandang, yaitu hal-hal yang buruk, luka, kata-kata yang kasar, perlakuan yang semena-mena. Semua hal tersebut tertanam dan mulai menumbuhkan benihnya hingga menjadi kepahitan, hingga satu hari bila kepahitan tersebut telah matang, akan menimbulkan kerugian bagi diri kita sendiri

Menyadari Talenta dan Tujuan Hidup

Setiap pribadi dikaruniakan talenta dengan fugsi dan jumlah yang berbeda. Dalam hal ini, sebaiknya kita juga sudah mengetahui talenta apa yang ada dalam diri kita. Talenta juga berhubungan erat dengan tujuan hidup. Ada baiknya bila tujuan hidup kita sejalan dengan talenta yang telah kita miliki. Terkadang, keraguan datang dan membuat kita goyah nemikirkan apa yang menjadi talenta dan tujuan hidup kita, namun hal tersebut bukanlah masalah, cari tahu hal yang kita senangi dengan disiplin mengasahnya. Hasilnya akan membantu untuk mempertemukan talenta dan tujuan hidup kita.

Keluar dari Zona Nyaman

Jika kita pernah bertanya mengapa terobosan tidak terjadi dalam hidup kita, mungkin sudah cukup lama kita berdiam dan menikmati zona nyaman. Jika kita mengharapkan sesuatu yang besar, kita tidak bisa hanya berdiri dan menunggu, kita harus berlari dan menjemputnya. Terlalu lama berada di zona nyaman kadang membuat kita lupa tujuan awal hingga potensi dan talenta kita jadi padam, dan kualitas diri semakin menurun. Bawa kembali semangat yang dulu pernah ada, terima tantangan baru, perluas kapasitas, jadi pribadi yang baru, pribadi yang sadar bahwa ia berharga.

===

Keterangan Penulis:

Claudia Angelita adalah mahasiswi Marketing Communication, Universitas Bina Nusantara 2017. Claudia juga menjadi bagian dari Team Promotion Binus University, Mentor Marketing Communication.

Ilustrasi dari: Pixabay

Spread the good inspiration
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.