Menjadi Penyintas Pelecehan Seksual Memang Berat, tapi Saya Mampu Melakukannya

Saya jijik pada diri saya sendiri, pada mulut saya dan seluruh bagian tubuh saya. Setiap kali saya mengingat bahwa saya punya mulut, rasanya saya ingin cabut mulut saya, setiap kali saya ingat saya punya badan, saya selalu ingin memukul badan saya, karena saya jijik.

Dikisahkan oleh Christie Priscilla*

Nama saya adalah Christie Priscilla, saat ini saya berumur 20 tahun, saya seorang introvert, lebih memilih menjadi penyendiri. Saya adalah korban pelecehan seksual. Saya tidak tahu apa yang mendorong saya sehingga saya berani menceritakan tentang kejadian masa lalu saya yang suram dengan membuka identitas aseli saya.

Saya Yakin, Saya Siap Membuka Pengalaman Trauma Saya

Ya, tidak sedikit orang yang menanyakan ke saya apa saya benar-benar yakin membuka identitas saya sebelum menulis kisah hidup saya dan mempublikasikannya. Saya dapat menjawab dengan lantang bahwa saya yakin, saya siap. Mungkin karena waktu itu saya mengingat perkataan seseorang untuk jangan takut menceritakan pengalaman hidup yang bisa menjadi berkat dan motivasi bagi banyak orang. Tetapi, sekarang saya sadar bahwa saya yakin bukan karena perkataan itu, tetapi karena saya sudah lepas dari belenggu trauma dan saya sudah melepaskan pengampunan kepada dia yang sudah melecehkan saya.

Menjadi Korban Sejak SD

Kisah ini berawal ketika saya duduk di bangku kelas empat sekolah dasar (SD). Saya adalah seorang anak tunggal yang hanya dibesarkan oleh mama saya, karena papa saya sudah meninggal semenjak saya berusia tiga tahun. Kepergian papa membuat mama saya menjadi satu-satunya tulang punggung keluarga kecil ini. Tentu saja, hal itu membuat mama menjadi seorang penggila kerja dan sangat sibuk, sampai-sampai setiap saya pulang sekolah, saya harus dititipkan di rumah teman mama saya yang seorang business man dan mempunyai beberapa pegawai yang sering datang ke rumah teman mama saya itu, katanya untuk keperluan bisnis.

Suatu hari, tepat hari senin sore, saya ingat hari dimana saya masih menggunakan seragam putih merah dan saya sedang menunggu jemputan mama . Tiba-tiba, salah seorang pegawai teman mama datang sambil membawa kendang yang berisi tikus. Saat itu saya sedang di teras depan rumah bersama kedua teman saya, mereka anak-anak dari temannya mama. Saya dan kedua teman saya sangat terpukau dengan kelucuan tikus yang dibawa oleh pegawai itu. Lalu, si pegawai itu menyuruh kedua teman saya untuk mengambil air dan makanan untuk tikus itu.

Entah kenapa saya reflek untuk ikut masuk membantu teman-teman saya, tapi tangan saya langsung ditarik dan dia bilang “kamu di sini aja temenin om” dan dengan polosnya saya bilang “oke om”, tetapi tangan saya tidak dilepaskan oleh orang itu dan saya mulai ditarik mendekatinya dan tiba-tiba mulai melakukan pelecehan seksual pada tubuh saya.

Saat terjadi pelecehan, saya merasa kaget, namun saya takut, saya bertanya-tanya “ini apa?”, “apa yang dia lakukan?” dan saat itu saya masih belum sadar dengan apa yang terjadi, saya hanya ingat yang dia berkata “kamu anak baik jangan cerita ke siapa-siapa ya tentang ini, kalau kamu cerita kamu nanti mati” lalu dia mengambil tikus yang ada di kandang dan dia mencekek tikus itu sampai mati. Yang membuat saya menangis sejadi-jadinya bukan karena saya habis dilecehkan atau karena diancam akan dibunuh, tapi karena tikus yang lucu itu dibunuh, tikus itu sudah mati, dan si pembunuhnya orang yang kejam.

Kenapa saya tidak menangis karena pelecehan seksual dan ancaman pembunuhan? Karena saat itu saya belum memahami bahwa saya adalah korban pelecehan seksual. Saat itu saya malah langsung jongkok dan meraih tikus itu dengan pilu, lalu om itu ikut jongkok di samping saya sambil mengelus-elus punggung saya dan berkata “ingat anak cantik jangan kasih tau siapa-siapa atau kamu akan mati seperti tikus itu”.

Tak Mampu Menceritakan Kisah Saya Pada Siapapun

Sejak kejadian itu, saya memang tidak menceritakan kepada siapapun. Karena saya tidak mau mati seperti tikus itu. Lalu, hal seperti itu terjadi lagi ketika saya kelas lima SD, bahkan lebih parah lagi. Saat itu saya sudah mulai mengerti apa yang sedang terjadi. Saya sedang dilecehkan oleh seorang pedofil, tetapi reaksi saya tetap sama seperti dulu, saya takut, saya merasa jijik, saya hanya bisa menangis tetapi saya tidak bisa teriak minta tolong karena saya takut disakiti. Saat itu saya hanya berani berkata dengan pelan sambil merintih dan menangis “om jangan, om jangan, christie gak suka, om jangan”.

Saat kejadian, saya hanya terus menangis dan menangis, namun tanpa suara. Menangis tanpa ada orang yang mendengar. Saat itu mulut saya seakan ada yang membungkam. Saya merasa benar-benar ada orang yang menutup mulut saya. Mungkin karena ancaman itu sampai saya tidak berani bersuara. Kejadian itu membuat saya trauma, saya takut kepada laki-laki dewasa, saya takut kepada tikus, saya takut datang ke rumah teman mama saya.

Saya jijik pada diri saya sendiri, pada mulut saya dan seluruh bagian tubuh saya. Setiap kali saya mengingat bahwa saya punya mulut, rasanya saya ingin cabut mulut saya, setiap kali saya ingat saya punya badan, saya selalu ingin memukul badan saya, karena saya jijik.

Pengalaman sebagai korban kekerasan seksual menyebabkan saya sering menyakiti tubuh saya. Setiap saya diam, saya selalu mengingat kejadian itu, dan setiap kali saya mengingatnya saya jadi marah, saya mulai memukuli tubuh saya dan menggigit bibir saya. “Aaaaaaaa!!!!” saya hanya bisa teriak, saya menangis sejadi-jadinya, kenapa hal itu musti terjadi kepada saya.

Akhirnya suatu hari saya membreranikan diri untuk bicara ke mama saya. Namun, tentu saja bukan bicara tentang kejadian pelecehan itu, tetapi bicara agar saya tidak lagi dititipkan di rumah teman mama saya. Sayangnya, jawaban mama jelas “tidak!” karena alasan saya yang konyol. Ya, saya bilang saya tidak mau ke rumah teman mama saya karena saya sedang musuhan dengan anaknya teman mama saya itu. “Hahaha, bodoh Christie!” ungkapku dalam hati. Akhirnya, saya harus terus berada di rumah itu sampai saya kelas enam. Masa-masa penuh ketakutan. Saya takut dia datang lagi. Saya hanya bisa berdoa kepada Tuhan untuk lindungi saya.

Beratnya Menjadi Penyintas, tapi Tuhan Kuatkan Saya

Awalnya saya tidak peduli dengan masalah yang terjadi dengan diri saya. Saya tidak tahu bahwa mental dan psikologis saya dalam keadaan kritis. Akhirnya, saat saya kelas satu SMP saya mulai menyadari itu. Saya mulai mencari-cari cara di internet, saya pergi ke warnet karena saat itu mengakses internet belum semudah sekarang. Saya mulai menjelajah dan browsing “Bagaimana Cara Menghilangkan trauma Pelecehan Seksual”, saya membuka satu artikel dan artikel itu berkata bahwa kita harus cerita, harus mencari dukungan dari keluarga dan sebagainya.

Sejak menyadari saya sebagai korban pelecehan seksual, saat itu juga saya merasa kecewa dan saya menangis. Saya berteriak di dalam hati saya. Saya tidak bisa cerita, saya tidak mau cerita. Bagaimana kalau tiba-tiba saya cerita dan mereka tidak percaya saya? ah tidak tidak ini bukan cara yang benar. Saya harus apa? Tuhan, Christie harus apa? Christie takut.

Ya, saya takut. Saya takut tidak bisa lepas dari trauma ini. Saya terus berdoa kepada Tuhan “apa yang harus saya lakukan, Tuhan?”. Intinya, saya tiada henti bertanya kepada Tuhan, saya bertanya tanpa memberi kesempatan kepada Tuhan untuk bekerja di dalam diri saya. Ya, ternyata saya baru sadar. Hanya Tuhan yang bisa membantu saya. Akhirnya saya benar-benar berserah kepada Tuhan agar Tuhan memulihkan saya. Saya benar-benar serahkan hidup saya ke dalam Tuhan dan akhirnya saya benar-benar dapat mengampuni orang yang telah melecehkan saya dan yang terpenting saya dapat berdamai dengan diri saya. Saya sudah bebas.

Untuk perempuan yang ada di luar sana yang mengalami hal serupa, ingat, kamu memang tidak sendiri, ada Tuhan sang konselor terbaik. Kamu hanya perlu datang menyerahkan diri kamu sepenuhnya ke dalam tangan Tuhan dan kamu ceritakan semua kepadaNya, rasa sakitmu, rasa marahmu, rasa traumamu, rasa takutmu, pelecehan itu, ceritakan. Tuhan akan menyembuhkanmu. Tuhan juga adil, jadi kamu hanya perlu melepaskan pengampunan kepada si pelaku dan sisanya biar Tuhan yang bertindak. Percayalah, ini cara yang ampuh. GOD IS A GREAT COUNSELOR.

Berbagai cara mengatasi trauma kekerasan seksual

Nah, kalau cara saya menguatkan diri adalah dengan menjadikan Tuhan sebagai konselor saya. Selain cara yang saya lakukan, kita juga bisa melakukan beberapa cara berikut. Ini adalah beberapa cara yang saya dapatkan setelah saya membaca beragam artikel tentang mengatasi trauma kekerasan seksual. Salah satunya adalah 5 cara berikut yang saya dapatkan dari artikel Hallo Sehat. Namun di sini saya hanya mempersingkat keterangannya saja ya.

1. Jangan ragu untuk menghindari situasi mengancam

Menghindar di sini artinya bukan sama sekali mengurung diri dari lingkungan sosial Anda. Menjauhkan diri dari orang terdekat malah dapat menyebabkan Anda sering sendirian, dan cenderung mengingat kembali apa yang membuat Anda trauma. Namun kadang memang beberapa tempat, lokasi, gedung, area, kegiatan, bahkan perawakan fisik orang tertentu dapat memicu kilas balik ingatan Anda akan kejadian naas tersebut.

2. Tetaplah Ngobrol dengan Orang Terdekat

Setelah mengalami pelecehan seksual, kebanyakan korban merasa minder dan sulit mempercayai orang lain. Namun, mengurung diri di kamar bukanlah hal yang tepat. Sebisa mungkin, jangan biarkan Anda sendirian.

Tetaplah bersama orang lain, entah itu orangtua, kakak atau adik, hingga teman dekat. Alihkan pikiran Anda dengan mengobrol (tidak harus tentang pelecehan yang Anda alami, jika Anda belum siap untuk blak-blakan; bicarakan apapun sesuka hati Anda).

Cukuplah bersenang-senang dan tertawa bersama orang-orang yang Anda cintai. Ini dapat membantu Anda memulihkan perasaan sedih yang dialami sekaligus mengingatkan bahwa Anda masih memiliki orang yang mencintai dan menghargai Anda.

3. Siapkan “kotak darurat”

Siapkan sebuah kotak atau tas dan isi dengan barang-barang yang bisa Anda gunakan untuk mengalihkan perhatian saat Anda terjebak dalam kilas balik trauma atau memiliki dorongan untuk menyakiti diri sendiri. Kotak itu harus mencakup hal-hal yang membutuhkan konsentrasi, namun yang tetap bisa Anda nikmati dan yang aman (tidak bisa dipakai untuk melukai).

Isinya bisa termasuk buku mewarnai, peralatan merajut atau untuk membuat gelang, puzzle, balok-balok Lego atau rubiks, buku TTS, buku cerita favorit, kertas dan krayon, stress ball, video game, plastisin mainan, cat kuku warna-warni, balon karet untuk ditiup, hingga mainan favorit — apapun yang bisa membuat Anda merasa nyaman dan “kabur” sejenak dari realita.

Jangan lupa juga untuk membawa beberapa barang ini bersama Anda ketika beraktivitas di luar. Mengalihkan perhatian kepada hal positif saat Anda sendirian sangat penting untuk dilakukan untuk mencegah trauma datang kembali.

4. Tuliskan atau gambarkan keluh kesah Anda

Menulis jurnal dapat menjadi cara yang sangat membantu untuk membenahi emosi Anda setelah mengalami kekerasan seksual. Tulis juga berbagai alasan “Kenapa aku mencintai diriku sendiri” atau kebahagiaan/keberuntungan yang selama ini pernah Anda alami untuk disimpan dan dibaca ulang saat Anda merasa sedang down.

Jika Anda malu untuk menumpahkan isi hati Anda dengan kata-kata, Anda bisa mulai dengan mencoret-coret gambar acak di secarik kertas. Jika Anda lebih bisa meluapkan curahan hati dengan menulis lirik lagu atau bait-bait puisi, juga tidak masalah. Yang penting adalah Anda bisa lebih mengenal dan memahami setiap gejolak emosi Anda. Ini dapat membantu Anda lebih sadar akan apa yang bisa menyebabkan trauma datang kembali sehingga Anda bisa mencegahnya di lain waktu.

5. Olahraga

Olahraga membantu melepaskan ketegangan fisik dan bisa menjadi cara yang bagus untuk mengatasi stres. Pergilah berlari atau berjalan-jalan di taman, bersepeda, senam aerobik, berenang, lompat-lompat di tempat, tinju samsak atau bantal, atau mintalah seorang teman untuk melakukan sesuatu yang aktif bersama Anda.

Kesehatan fisik yang baik dapat mendukung Anda melalui masa sulit dalam proses pemulihan trauma. Pasalnya, olahraga bisa membantu Anda mengurangi rasa cemas bahkan gejala depresi. Jangan lupa juga untuk sebisa mungkin menjaga asupan makanan yang seimbang dan tidur yang teratur.

6. Menangis

Ya, tidak apa untuk menangis di kala Anda sudah merasa sangat kewalahan dengan semua yang terjadi dalam hidup.

Menangis saat Anda stres merupakan salah satu cara terbaik untuk menyalurkan stres Anda dan memberikan Anda perasaan lega. Saat Anda menangis karena stres, sebenarnya tubuh juga sedang melepaskan hormon stres atau racun dari tubuh melalui air mata yang menetes. Itu sebabnya menangis dapat memperbaiki suasana hati Anda.

Penelitian dari University of South Florida tahun 2008 membuktikan bahwa menangis bekerja lebih baik untuk menenangkan diri dan meningkatkan suasana hati Anda daripada obat antidepresan apapun.

7. Berbagai hal lainnya

Saat ini, Anda menghadapi emosi dan situasi yang sulit. Jika Anda adalah korban pelecehan seksual, ingat bahwa Anda tidak bersalah! Agar bisa pulih sepenuhnya, Anda harus memiliki alternatif agar Anda dapat bertindak dengan cara lain yang dapat membuat Anda merasa lebih rileks dan tenang saat trauma kembali menghantui.

Anda bisa pijat-pijat leher, tangan, dan kaki; mendengarkan alunan musik yang menenangkan; berendam air hangat atau guyur diri sendiri dengan air dingin; berteriak sekencang dan sepuas mungkin ke dalam bantal; pergi karaokean; mengelus kucing atau anjing; memasak; menonton film favorit; hiking; hingga mengatur ulang koleksi buku atau CD musik Anda sesuai alfabet. Teknik-teknik ini bisa menjadi alternatif untuk mengurangi stres yang Anda rasakan.

Jika dibutuhkan, Anda juga bisa mengunjungi psikolog atau konselor untuk menemukan cara mengatasi trauma kekerasan seksual yang Anda alami.

NOMOR DARURAT YANG PERLU KAMU TAHU!!

Jika Anda, anggota keluarga, kerabat terdekat, atau orang di sekitar mengalami kekerasan seksual dalam bentuk apapun, segera hubungi hotline nomor darurat polisi 110KPAI (021) 319-015-56; Komnas Perempuan (021) 390-3963; SIKAP (Solidaritas Aksi Korban Kekerasan terhadap Anak dan Perempuan) (021) 319-069-33; LBH APIK (021) 877-972-89; Pusat Krisis Terpadu RSCM (021) 361-2261; atau hotline Pencegahan Bunuh Diri (021)7256526/(021) 7257826/(021) 7221810.

Keterangan Penulis:  Christie Priscilla adalah salah satu mahasiswi di perguruan tinggi swasta di Jakarta.

Ilustrasi gambar dari Pixabay

Spread the good inspiration
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.