Berbekal Hobi Menghias Kue, Kartini Sukses Menjadi Wirausaha Muda

“Membuat kue tidak cuman bicara soal tekstur dan rasa, tetapi bagaimana orang yang mengonsumsi Joiesweetscake ini dapat merasakan sukacita hasil dari ketekunan dan kesabaran kita dalam mengolahnya” (Kartini).

Dikisahkan oleh Vany Melinia*

Lahir dari hobi membuat dan menghias kue. Jadilah, Kartini (22) kini memiliki bisnis chiffon cake dengan merek “Joiesweetscake”. Dia tidak sendiri, Joiesweetscake ini didirikan dan dibuka bersama koleganya di kampus sejak bulan Oktober 2018, yang kebetulan mereka memiliki mimpi yang sama, yaitu terjun ke dunia bisnis, kemudian Kartini bersama dengan koleganya yang biasa dipanggil Cindy ini pun menjadi membangun impiannya, hingga pada akhirnya lahirlah Joiesweetscake.

Berawal dari Pemasaran di Medsos

Kartini bersama koleganya itu menjadi partner kerja. “Awalnya, dijual lewat Instagram saja, dan responsnya bagus,” tutur alumnus Akuntansi Binus University Jakarta tahun 2018 ini.

Media sosial dinilai lebih efektif dan dapat meminimalikan modal promosi, mengingat tidak dapat dielakkan lagi bahwa hampir semua kalangan kini telah aktif di media sosial, yang salah satunya adalah Instagram.

Selain itu, Kartini sangat mengandalkan dan percaya kepada The Power of Mouth to Mouth Marketing. “Dampak dan respons cukup tinggi, ini dapat menjadi testimoni langsung bagi lingkungan sekitar,” ujarnya.

Ini dia chiffon cake “joiesweetcakee”, produk khas buatan Kartini. (Foto: dokumentasi pribadi Kartini)

Kartini bercerita, dulu sering membuat kue dan membagikannya kepada teman-temannya. Mereka suka kue buatannya. Pengakuan itu membuat teman-teman lainnya tertarik. Beberapa di antaranya menyarankan membuka bisnis kue.

Tetapi, wanita kelahiran Tanjung Pinang ini mengesampingkan saran itu dan memilih tetap fokus di perkuliahannya sampai akhir. Kendati sibuk berkuliah, dia menyisihkan uang jajannya untuk ditabung. Targetnya, supaya dapat mewujudkan mimpi seperti saran teman-temannya itu.

Begitu sidang skripsi usai, Kartini bersorak. Dia gembira bisa menyelesaikan pendidikan, dan bersukacita atas dimulainya bisnis kuenya. Produk Joeisweetscake menawarkan chiffon cake berbentuk bulat dan bolong di tengah.

Varian rasanya sangat beragam, yaitu ada keju, meses, earl grey dan oreo. Kartini mengatakan, Joiesweetscake turut memeriahkan edisi Natal, dengan menyediakan christmas cookie. “Ke depannya akan ada bentuk dan variasi lain, tentunya nanti juga aka nada kue ulang tahun” imbuhnya.

Untuk para penggemar kue ini, Kartini hanya melayani made by order, karena akan lebih baik dan memanjakan lidah pembeli jika produknya fresh from the oven. Apalagi, chiffon cake tidak bertahan lama, maksimal hanya 4 hari. Kecuali, untuk cookies dapat bertahan lebih dari 2 minggu.
Prioritaskan Kebahagiaan Konsumen

Harga chiffon cake Joiesweetscake berada dalam kisaran Rp 50.000 sampai dengan Rp 100.000. Hal itu wajar karena selain rasa, tekstur, dan proses pembuatannya diyakini, penuh sentuhan suka cita. Kartini tidak pernah menganggap remeh sebuah produk kue.

“Membuat kue tidak cuman bicara soal tekstur dan rasa, tetapi bagaimana orang yang mengonsumsi Joiesweetscake ini dapat merasakan sukacita hasil dari ketekunan dan kesabaran kita dalam mengolahnya,” tutur Kartini.

Kini, sejak Kartini sukses mengelolan bisnisnya, bukan berarti Kartini mencapai titik terwujudnya mimpi tanpa ada duka di dalamnya. Tantangan demi tangangan pernah dilaluinya, terutama di awal perjalanan usahanya. Kartini pernah menargetkan penjualan 50 pcs, tetapi seiring berjalannya waktu, hanya 33 pcs yang terjual, dan hal ini menjadi pelajaran tersendiri bagi Kartini, ia sadar bahwa ia harus lebih aktif dan gencar menjangkau pasar yang lebih luas.

“Saat ini kita promosi baru melewati Instagram dan juga mulut ke mulut, belum sampai melalui Tokopedia atau Shopee gitu,” imbuhnya.

Joiesweetscake pernah melayani pesanan membuat lebih dari 550 christmas cookies, dan itu sangat menguras banyak waktu dan tenaga. Proses pembuatannya memakan waktu hingga berhari-hari, mulai dari pagi sampai malam hari. Tetapi, hal inilah yang sering dipandang enteng oleh masyarakat sekitar yang seringkali hanya memperhitungkan bahan pembuatannya.

“Padahal, dari segi waktu membuat kue akan sebanding dengan orang yang bekerja di kantor pada umumnya, dan juga waktu awal dibentuknya bisnis ini tentu dibutuhkan eksperimen sebelumnya, dan juga butuh waktu lebih untuk mempersiapkan semuanya, seperti membeli alat dan bahan. Jelas, dari segi waktu juga harus diperhatikan, bahkan tenaga yang dikeluarkan pun besar,” tambahnya.

Tidak Menyerah dan Tetap Berinovasi

Menurut Kartini, tidak banyak orang yang dapat memahami perjuangan proses awal mulanya dunia bisnis bermula. Meski demikian, dia tidak menyerah dan mendekam begitu saja akibat omongan orang lain. Kartini terus meningkatkan kualitas dan kuantitas produknya, dan meyakinkan lingkungannya bahwa apa yang dijalaninya saat ini adalah yang terbaik dan sesuai dengan minat bakatnya.

Ia bahkan, rela mengontrol dan memperhatikan semuanya, dari segi rasa, tekstur, desain maupun kemasan. Bahkan, pelayanannya harus sebaik dan seramah mungkin kepada konsumen. Tidak heran jika konsumen yang membeli produknya akan merasakan sukacita dan kesenangan tersendiri ketika menerima dan mengonsumsi

Kunci dari perjalanan bisnis yang dikelola oleh Kartini ini salah satunya adalah tetaplah maju, jangan mudah menyerah, terus berinovasi dan komitmen. Sebab, tanpa adanya keempat dimensi itu, maka akan dengan mudahnya tereliminasi oleh pesaing-pesaing lain.

Selain itu, mimpi Kartini selanjutnya adalah bisnisnya tidak hanya sampai disini saja, tetapi dapat berkembang dan dikenal oleh banyak orang. Ia percaya bahwa suatu saat seiring dengan berjalannya hari demi hari, akan ada jalan baginya untuk mencapai mimpinya tersebut. Dibekali juga dengan doa dan iman, ia mantap untuk melangkah maju bersama dengan mimpi-mimpinya.

===

Keterangan Penulis:

*Vany Melinia adalah mahasiswi Marketing Communication, Bina Nusantara (Binus) Jakarta. Vany dapat dihubungi melalui Instagram : @vmelinia); Facebook : Vany Melinia Santoso; Twitter : @Ng_VanyM.  

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.