Jangan Anggap Remeh Gangguan Kesehatan Mental

Banyak orang takut harus menanggung hukuman sosial atau stigma negatif masyarakat kepada penderita gangguan mental. Beberapa orang menganggap pembicaraan tentang kesehatan mental bahkan sungguh memalukan atau tabu untuk dibicarakan. Sehingga kebanyakan penderita memilih tidak membeberkan masalah kejiwaan kepada keluarga terdekat.

*Dikisahkan oleh Shierine Audreyla*

Suatu hari, seseorang menceritakan pengalaman dan perjuangannya dalam menghadapi gangguan mental (mental illness) yang terjadi dalam dirinya dan mengatakan bahwa di Indonesia sendiri. Gangguan kesehatan mental seringkali dinilai sebagai bentuk kurangnya iman atau kasus kerasukan setan.

Masyarakat cenderung kurang atau bahkan tidak peduli dengan gangguan kesehatan mental (mental illness) atau mental health. Masyarakat masih beranggapan bahwa orang yang terkena gangguan mental atau mental illness dinilai sebagai orang yang tidak waras atau gila.

Menurut survey yang dilakukan oleh World Health Organization atau WHO, sekitar 20 persen anak-anak dan remaja di dunia mengalami gangguan dan permasalahan mental. Dan lebih dari 800.000 orang setiap tahunnya mati karena bunuh diri. Bunuh diri sendiri menjadi penyebab terbesar ke-2 kematian yang terjadi pada usia 15-29 tahun.

Gangguan kesehatan mental bisa dirasakan siapapun termasuk di kalangan pelajar atau mahasiswa. Seperti kegelisahan yang dirasakan Naura, seorang mahasiswi Universitas Indonesia jurusan Sastra Inggris. Menurutnya, kesehatan mental itu sangat penting. Mengapa? Karena untuk menjalani aktivitas sehari-hari, dibutuhkan kesehatan baik dari fisik dan mental yang bagus.

“Banyak orang yang akan berubah perilakunya ketika mood mereka memburuk. Apalagi kalau tidak stabil mentalnya? Seperti itu gambaran besarnya. Terlebih lagi, kesehatan mental akan mempengaruhi cara kita berpikir dan bertingkah sampai ke hal yang paling kecil. Pekerjaan ringan seperti bangun dari tempat tidur pun tidak bisa dilakukan apabila sedang tidak stabil,”ungkap Naura pada 23/01/19.

Menurutnya, di zaman sekarang ini, masyarakat harus lebih peka dan peduli terhadap kesehatan mentalnya. Naura menjelaskan lebih rinci lagi, “Karena sekarang tekanan hidup, contohnya seperti kerja dan ujian, sudah makin membesar dan sudah lebih beragam dibandingkan beberapa dekade yang lalu. Hal hal seperti ini yang membahayakan orang yang rentan stabilitas kesehatan mentalnya. Ditambah lagi dengan penelitian psikologi terkait dengan kesehatan mental yang sudah semakin banyak, akan tidak etis rasanya untuk mengabaikan pentingnya kesehatan mental, bahkan untuk anak-anak.”

Faktor Penyebab Kesehatan Mental

Banyak sekali penyebab kesehatan mental yang rentan terjadi baik dari faktor internal maupun eksternal. Tercatat beberapa masalah kesehatan mental seperti skizofrenia dan dissociative personality disorder (DID) terjadi selain karena akibat masalah eksternal, juga terjadi karena ada kelainan pada otak seseorang. Penyebab eksternal juga tidak kalah penting.

Contoh penyebab eksternal yang bisa mempengaruhi adalah lingkungan yang tidak bahagia di rumah maupun dalam lingkungan pertemanan. Kerap kali, gejala gangguan mental muncul tanpa disadari oleh penderita maupun lingkungan sekitarnya. Gejala gangguan kesehatan mental tak hanya cukup diamati secara kasat mata. Jika tidak segera mendapat penanganan yang tepat, maka akan berakibat fatal pada kondisi psikologis seseorang.

Bagi Naura, satu-satunya hal yang bisa dilakukan apabila sudah mempunyai masalah kesehatan mental itu sendiri adalah dengan pergi ke psikolog.

“Dengan pergi ke psikolog, nantinya mereka akan bisa mendapatkan diagnosa kesehatan mental mereka dan apa yang bisa dilakukan untuk membuat kondisi kesehatan mental mereka stabil,” ungkapnya. Baginya, masalah kesehatan mental di sini bukan suatu penyakit yang bisa sembuh begitu diobati, itu adalah sebuah kondisi. Apabila seseorang sudah mempunyai masalah mental, yang mereka bisa lakukan hanyalah mencari tahu bagaimana membuat keadaan mental mereka stabil.

Mengatasi Kesehatan Mental

Jika di lingkungan sekitar kita atau bahkan kita sendiri yang Kesehatan mental pada dasarnya bisa disembuhkan oleh diri sendiri. dapat membantu sesama dengan cara yang sederhana. Dengan cukup bicara kalau ada masalah dan mendengarkan orang lain yang mencurahkan isi hati dan pikiran atau bebannya kepada kita.

Dengan mendengarkan dan menjadi tempat yang nyaman bagi mereka saat ingin bercerita, kita dapat menyadari bahwa orang tersebut butuh bantuan. Hal ini merupakan salah satu langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk membantu orang-orang yang memiliki gangguan kesehatan mental. Sama halnya dengan diri kita sendiri, jika kita merasa telah mengalami sebuah tekanan dari sisi psikologis kita atau merasa ada beban pikiran yang sangat berat, usahakan jangan ragu untuk bercerita.

Dengan mengerti bahwa menjaga kesehatan mental baik diri sendiri maupun orang lain adalah penting, di sinilah kita akan semakin memahami dan menghargai orang lain dengan segala kekurangan dan masalah di dalam dirinya. Selain itu, kita juga akan semakin mengerti apa yang mereka rasakan dan apa yang bisa kita lakukan untuk membantunya. Karena masih banyak orang yang masih menganggap remeh sebuah masalah yang mengganggu pikiran dan bahkan mental seseorang, namun sesungguhnya hal ini menjadi perhatian khusus bagi kita semua.

Banyak orang berpikir bahwa orang yang sehat adalah yang jarang sakit secara fisik. Namun perlu kita ketahui bahwa orang yang sehat adalah orang yang sehat dari kedua aspek yaitu jasmani dan rohaninya. Seperti yang dikatakan oleh pepatah latin “Mens Sana In Corpore Sano” yang berarti di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat.

Kesehatan mental yang baik adalah kondisi ketika batin kita berada dalam keadaan tenteram dan tenang, sehingga memungkinkan kita untuk menikmati kehidupan sehari-hari dan menghargai orang lain di sekitar. Apabila kesehatan mental seseorang terganggu, ia akan mengalami gangguan suasana hati, kemampuan berpikir, serta kendali emosi yang dapat mengarah pada perilaku buruk. Ada berbagai contoh gangguan kesehatan mental seperti stress, depresi, gangguan kecemasan, bipolar, ADHD (Attention Deficit and Hyperactivity Disorder), dan masih banyak lagi. Perlu kita sadari bahwa kesahatan mental menjadi sebuah kebutuhan yang harus selalu diperhatikan oleh masyarakat.

*Keterangan penulis: Shierine Audreyla adalah mahasiswi Universitas Bina Nusantara Jakarta.

Ilustrasi: pixabay

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.