Perempuan Belajar Bela Diri, Kenapa Tidak?

Saya lelaki dan saya menentang keras segala bentuk kekerasan terhadap perempuan. Saya yakin semua perempuan mampu menjaga diri dan berhak untuk bahagia. Kisah ini ditulis untuk perempuan sebagai pembelajaran pentingnya bela diri, dari sudut pandang saya sebagai lelaki yang peduli pada kaum perempuan.

Dikisahkan oleh Ardianta Wijaya*

Saya sebagai lelaki menentang kekerasan, pelecehan, penganiyayaan, segala bentuk perlakuan dan tindakan fisik yang dapat merugikan perempuan. Saya mengenal cukup banyak perempuan yang mengalami tindak kekerasan, dari tindakan kekerasan sederhana hingga pelecehan yang merusak mental mereka.

Suatu kali saya pernah mendapatkan kesempatan untuk mendengarkan secara langsung cerita seorang perempuan yang menjadi korban kekerasan. Ia masih muda, bahkan usianya belum mencapai 18 tahun saat kejadian tersebut, dulu ia merasa bahwa perlakuan tersebut terjadi karena kesalahannya, ia merasa pantas diperlakukan seperti itu karena kekurangannya, berbagai tindak kekerasan sudah ia rasakan, baik tamparan, teriakan, maupun pukulan, rasanya sudah menjadi makanan sehari-hari bagi dia. Perlakuan kejam tidak lain ia terima dari kekasihnya, hingga suatu hari ia bertemu dengan seorang laki-laki yang membuat dia sadar betapa berharga dirinya, pertemuan kecil tersebut ternyata membawa perubahan besar dalam dirinya.

Si perempuan mencoba mengumpulkan keberanian hingga memutuskan untuk mengakhiri hubungan tersebut. Kini, kondisinya sudah sangat jauh lebih baik, dulu ia yang menyimpan semuanya untuk diri sendiri, tidak mampu berkata kepada siapapun, sekarang ia memutuskan mempelajari bela diri dan menyemangati para perempuan lainnya yang mengalami pengalaman yang sama dengan dia, bahwa semua perempuan mampu menjaga diri dan berhak untuk bahagia.

Mengapa Perempuan Harus Mampu Menjaga Diri?

Pada tahun 2016, seorang penulis dengan nama akun Reuters menulis artikel di voaindonesia.com yang berisikan, “Daris 25.213 responden yang disurvei secara daring, sekitar 6,5 persen — atau 1.636 orang — mengatakan mereka pernah diperkosa dan dari jumlah itu, 93 persen mengatakan mereka tidak melaporkan kejahatan tersebut, karena takut akibat-akibatnya.” Para perempuan responden tersebut tidak berani membuka mulut dan melaporkan kepada pihak yang berwajib, mereka mempunyai rasa takut atas penghakiman dari orang sekitar dan takut mengecewakan keluarganya.

Karena pengalaman buruk perempuan, mereka dapat kehilangan percaya diri, mereka merasa bersalah atas apa yang terjadi pada mereka, mereka merasa tidak pantas untuk dicintai, bahkan segala hal itu dapat mengarah kepada bunuh diri.

Apa Saja Manfaat Mempelajari Bela Diri bagi Perempuan?

Bela diri bukan hanya memukul lawan atau pun seperti aksi-aksi yang dilakukan para aktor atau aktris di film kung fu yang biasa kita tonton, bela diri adalah seni untuk membela diri, bukan untuk menindas ataupun melukai orang, melainkan untuk menjaga diri dari berbagai tindakan kejahatan. Selain itu, mempelajari bela diri memiliki banyak manfaat bagi wanita. Dapat dilihat manfaatnya sebagai berikut:

Mampu Menjaga Diri dari Pelaku Kejahatan

Ini adalah manfaat utama mempelajari bela diri. Pada jaman sekarang, masih banyak yang memandang perempuan sebagai mahkluk yang lemah, maka dari itu perempuan menjadi sasaran yang mudah bagi para pelaku, kejahatan tersebut bisa dalam bentuk kekerasan fisik, pelecehan, pencurian, dan sebagainya.

Banyak kasus pelecehan seksual di dalam transportasi umum, seperti kereta, saat pelaku melaksanakan kebejatannya, cukup banyak korban yang tidak berani bertindak untuk menghentikan, karena ada rasa takut untuk disakiti dan tidak tahu apa yang harus diperbuat. Dalam bela diri, perempuan dapat diajarkan bagaimana menangkis, menghindar, dan membalas aksi pelaku kejahatan. Dengan mengetahui berbagai teknik, perempuan akan mengetahui apa yang harus dilakukan di saat yang diperlukan.

Meningkatkan mentalitas yang positif

Seperti kasus yang ada, banyak sekali perempuan yang memilih untuk menutup mulut dan tidak melapor kepada pihak yang berwajib, dengan alasan takut, malah dengan menutup mulut, mereka dapat kehilangan kepercayaan diri dan menyalahkan diri mereka atas apa yang terjadi kepada mereka. Dalam bela diri, perempuan dapat belajar bagaimana membangun mental yang sehat dan positif, meningkatkan kepercayaan diri, meningkatkan keberanian untuk bertindak, dan mereka akan menjadi lebih waspada kepada sekitar.

Menjaga kesehatan

Bukan hanya untuk menjaga diri, bela diri juga dapat membantu menjaga kesehatan, karena akan ada serangkaian latihan fisik yang harus dijalani, dengan menggerakan seluruh anggota tubuh untuk melatih tubuh menjadi lebih sehat, karena dengan tubuh yang sehat, perempuan dapat menjalani segala kondisi yang akan dihadapi.

Meningkatkan Kecerdasan

Dengan tubuh yang sehat terdapat otak yang cerdas, menggerakan seluruh anggota tubuh bukan hanya untuk melatih tubuh agar menjadi lebih sehat, pergerakan tersebut membutuhkan koordinasi dari otak agar tidak terjadi kesalahan, sehingga otak akan terasah dan akan terbiasa dengan koordinasi yang rumit untuk dilakukan. Hanya mengetahui teknik-teknik yang dapat digunakan tidaklah cukup kecerdasan sangat diperlukan untuk memproses keadaan dan apa yang harus dilakukan.

Memperkuat tubuh

Dalam pengalaman saya mempelajari bela diri, saya menemukan banyak sekali para perempuan yang memiliki tubuh yang lebih kuat daripada laki-laki termasuk saya, mereka adalah para perempuan yang mematahkan stereotype bahwa perempuan lemah, bahkan tidak sedikit dari mereka yang meraih prestasi di dalam kejuaraan bela diri skala internasional.

Saling membantu

Dengan semua pengetahuan yang telah dipelajari, tidak hanya untuk menjaga diri, perempuan juga dapat membantu orang lain yang sedang berada dalam kesulitan, mereka bisa menolong orang yang sedang diganggu atau membagikan pengetahuannya kepada perempuan lain agar dapat mencegah dan tidak mengalami tindakan kejahatan, bahkan mereka dapat menjadi seorang influencer yang dapat memberikan pengaruh yang baik ke semua orang.

Sumber referensi : voa

Keterangan Penulis:

*Ardianta Wijaya adalah Mahasiswa Marketing Communication di Universitas Bina Nusantara (Binus) Jakarta.

ilustrasi: freepik

Kisah Lain

Spread the good inspiration
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.