Mamah Iyop: Menjadi Penjahit Biasa hingga Wirausaha Sukses dan Berdayakan Warga melalui Kursus “Berdikari”

Meskipun hanya lulusan SMP, Mamah Iyop mampu membangun bisnisnya sekaligus memberdayakan warga sekitar. Dia juga tetap membagikan ilmunya kepada muridnya yang mengikuti kursus jahit “Berdikari” yang ia dirikan. Terbukti dengan banyaknya murid yang sudah bekerja di pabrik pembuatan baju maupun membuka usaha sebagai penjahit. Menekuni dunia menjahit mengantar kesuksesannya sampai saat ini. Ibu dengan dua anak ini bisa menyekolahkan anaknya sampai ke perguruan tinggi.

Ditulis oleh Rizki Oktaviani*

Di Desa Kalimukti, Kecamatan Pabedilan, Kabupaten Cirebon, siapa yang tak mengenal sosok perempuan desa yang akrab disapa Mamah Iyop? Perempuan yang memiliki nama lengkap Ropi’ah ini paling sering dirujuk namanya ketika warga sekitar dan bahkan warga di desa sekitarnya membutuhkan jasa manjahit baju. Kini bahkan bukan sekadar menjahit baju, namun juga menjual aneka busana dan pernak-pernik untuk semua usia.

Mamah Iyop dan suaminya (foto: dokumentasi pribadi Mamah Iyop)

Di desanya, Mamah Iyop termasuk salah satu wirausaha perempuan yang sukses. Namun, apakah kesuksesan Mamah Iyop tumbuh begitu saja tanpa kerja keras dan keterampilan (skill) yang mumpuni? Tentu saja tidak, sekian kendala dan tantangan sering dialami Mamah Iyop. Anak ke 6 dari 9 bersaudara ini tinggal dan dibesarkan oleh kakaknya, seorang pengusaha kue di kota kelahiranya, Cirebon. Namun, karena kecintaannya pada dunia jahit mejahit, ia pun lebih memilih menekuni hobinya tersebut.

Awalnya, Mamah Iyop hanya belajar menjahit secara otodidak atau belajar sendiri tanpa seorang guru yang membimbingnya. Hingga suatu hari, Ia memutuskan untuk meningkatkan kapasitasnya sebagai melalui sebuah lembaga kursus jahit di Kota Cirebon, selama 6 bulan. Adapun biaya kursus menjahitnya dibiayai oleh kakaknya. Setelah menyelesaikan masa kursus, Mamah Iyop pun pulang dan memutuskan untuk tinggal di desa kelahirannya dan menikah pada 1988.

Mendampingi Warga Tingkatkan Ketrampilan

Mamah Iyop yang awalnya menjadi penjahit rumahan untuk orang-orang terdekat, pada tahun 1991 mulai belajar mengembangkan usahanya. Semangat untuk mengembangkan usaha ini tidak terlepas dari peran beberapa pihak. Salah satunya adalah tokoh masyarakat yang secara kebetulan baru menyelesaikan pelatihan keterampilan di Solo, Jawa Tengah. Ia mengusulkan untuk mengadakan pelatihan keterampilan untuk masyarakat terutama ibu-ibu agar bisa memperbaiki perekonomian mereka dengan keterampilan yang akan mereka ikuti.

Ide pemberdayaan untuk perempuan desa kemudian berlanjut dengan menghadirkan sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) dari Bekasi yang fokus pada pemberdayaan perempuan. LSM tersebut melatih masyarakat dengan berbagai macam keterampilan selama kurang lebih 1 tahun.

Mamah Iyop awalnya memilih untuk mengasah keterampilan menjahitnya, namun karena ia sudah memiliki skill mumpuni, akhirnya Ia dipercaya untuk mendampingi warga lainnya yang ingin belajar menjahit. Dalam perkembangannya, Mamah Iyop bukan hanya menjahir baju sesuai kebutuhan orang yang datang. Namun juga belajar bagaimana membuat model busana yang digemari atau yang sedang tren dan disukai masyarakat pada umumnya. Sejak itu kemampuan jahitnya semakin terasah dan profesioal.

Membuka Kursus Jahit “Berdikari”

Setelah menempuh perjalanan panjang dalam dunia jahit, Mamah Iyop membuka kursus jahit yang diberi nama “Berdikari” pada tahun 1993, tak disangka banyak yang berminat megikuti kursus jahit, banyak ratusan murid yang mendaftar. Sekarang sudah ribuan alumni kursus jahit yang tersebar di Indonesia. Karena sering membeli peralatan untuk kebutuhan menjahit, banyak masyarakat yang menitip pakaian, baju, dan lain sebagainya.

Suasana ruangan kursus “Berdikari” yang dibangun oleh Mamah Iyop.

Dari situ ia berinisiatif untuk berwirausaha. Sejak itu pula, selain menjahit Mamah Iyop juga membuka usaha dirumahnya dengan berjualan baju, kemeja, kerudung, dan perlengkapan untuk menjahit. Terutama menjual aneka baju yang dibutuhkan oleh santri karena di daerah rumahnya merupakan daerah santri yang bayak sekali pondok pesantren. Ia juga belanja barang tersebut dari pasar tegal gubug, Cirebon yang kemudian ia jualkan kembali.

Penjahit sekaligus pemilik kursus jahit “Berdikari” ini mengawali usahanya dari nol. Awal mula menerima order hanya beberapa, masih sepi orderan, lambat laun usaha Mamah Iyop semakin dikenal. Saat ini menerima orderan dalam jumlah banyak yang dipesan baik perorangan maupun oleh pihak sekolah untuk pembuatan seragam yang di bandrol mulai harga Rp. 75.000 sampai ratusan ribu rupiah sesuai dengan kesulitan yang dibuat.

Ibu tangguh ini memang tidak langsung sukses seperti saat ini, perjalanan menuju puncak tak selamanya lurus, mulus dan lancar, ia pun pernah merasakan perihnya banting tulang membangun usaha.

“Dulu kalau belanja, berangkatnya jam 3 pagi naik bus pagi-pagi sampe biar gak kehabisan stok baju, alhamdulillah sekarang perjuangan itu sudah terlewati dan bisa beli mobil sendiri,” tutur Mamah Iyop.

Perjuanganya pun membuahkan hasil, bukan hanya dirasakan oleh dirinya sendiri, namun orang-orang sekitar juga. Mamah Iyop membanntu dan memberikan peluang pekerjaan kepada orang-orang sekitar untuk membantu perekonomian mereka.

Tak Henti Berkreasi dan Mengabdi

Di usia Mamah Iyop yang kini memasuki 49 tahun, ia telah berhasil menghantarkan kedua anaknya sampai ke jenjang perguruan tinggi. Ia dan suaminya sebagai seorang guru terus saling mendukung dan berbagi peran.

“Dulu, sempet ingin jadi guru kesenian atau guru mejahit, tapi kata suami kerja di rumah aja, mengurus suami dan anak, mengajar bisa dimana saja walaupun dirumah sekalipun,” ungkap Mamah Iyop.

Niatnya untuk meneruskan pendidikan terpaksa ia urungkan dan fokus pada usahanya. Usahanya pula yang mendorongnya terus bersemangat mengabdi bersama para warga yang membutuhkan ketrampilannya. Berkat pengabdiannya dan dipercaya masyarakat sampai saat ini, Ia meyakini bahwa Tuhan membukakan pintu rezekinya melalui segala apa yang dimilikinya saat ini, yaitu kapasitas yang ia miliki dan pengabdian.

Kini, meskipun hanya lulusan SMP, ia tetap bisa membagikan ilmunnya kepada muridnya yang mengikuti kursus jahit padanya. Terbukti dengan banyaknya murid yang sudah bekerja di pabrik pembuatan baju maupun membuka usaha sebagai penjahit. Menekuni dunia menjahit mengantar kesuksesannya sampai sekarang ini. Ibu dengan dua anak ini bisa menyekolahkan anaknya sampai ke perguruan tinggi.

Salah satu produk yang dibuat dan dijual oleh Mamah Iyop di rumahnya

Membangun sebuah usaha tentu menuai banyak kendala. Kendala selama menjadi penjahit dan berwirausaha banyak sekali. Kendala dalam menjahit adalah dalam menuruti permintaan pelanggan yang terkadang banyak permintaan, dan saat pesanan jahitan tidak diambil-ambil oleh pemesan, dan yang paling sulit adalah mencari rekan kerja menjahit yang profesional. Jadi intinya, bagaimana caranya kita menjadi penjahit profesional yang disukai oleh pemesan sehingga bisa menjadi pelanggan.

Sejauh ini banyak sekali pelanggan yang masih setia selama bertahun-tahun, dari perorangan maupun dari lembaga pedidikan (sekolah). Adapun dalam kendala berwirausaha yaitu ada beberapa orang yang mengambil barang tetapi baru dibayar beberapa tahun kemudian.

Hal-hal penting yang paling diperhatikan sebelum menjahit adalah menyesuaikan model sesuai keinginan pelanggan dan pemilihan bahan yang sesuai. Karena yang terpenting adalah kualitas dan kepuasan pelanggan.

Selain mempromosikan lewat mulut ke mulut. Mamah Iyop memanfaatkan media sosial untuk mempromosikan usahanya, salah satunya melalui akun Facebook pribadinya. Dari sosial media, memberikan dampak yang positif bagi usahanya, orderan semakin banyak dan penjualanpun semakin laris, selain itu dampak positif lainya yaitu bisa memperluas relasi. Dan saat ini, pelanggan Mamah Iyop mulai dari kalangan biasa, pengusaha, guru, bidan, bahkan dokter. Mempertahankan pelanggan adalah yang terpenting. Maka dari itu, Mamah Iyop mengutamakan harga yang standar namun tetap berkualitas.

Menginspirasi Banyak Orang

Ia bertekad untuk tidak sekadar menjadi seorang Ibu atau pun perempuan yang mengerjakan tanggung jawab domestik. Dia tidak mau terkungkung dan tak berkutik hanya menghabiskan waktu di dapur, sumur dan kasur. Tetapi ia bertekad menjadi seorang Ibu luar biasa yang bisa menginspirasi banyak orang, tetapi tidak luput dari tangung jawab seorang Ibu dan Istri.

“Saya tak ingin membatasi diri dan terkungkung pada tanggung jawab domestik. Laki-laki dan perempuan sama-sama memiliki potensi berkembang, termasuk dalam berwirausaha dan terus memperluas relasi,” papar Mamah Iyop.

Yang terpenting, lanjutnya, jangan pernah berhenti mencoba, teruslah berjalan dan tekuni apa yang sudah kita putuskan. Kita harus terus berusaha dan berkreasi. Apalagi dalam hal wirausaha, jatuh bangkit adalah hal yang sudah biasa. Jangan lupa untuk menjadi manusia yang senantiasa mensyukuri rahmat-Nnya. Karena tanpa campur tangan Tuhan kita bukanlah siapa-siapa.

Keterangan Penulis:

Rizki Oktaviani adalah Mahasiswi Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI), Fakultas Tarbiyah, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Spread the good inspiration
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.