Semua Perempuan itu Mandiri, Bahkan yang Manja Sekalipun

Aku bisa dikatakan sebagai anak yang manja. Namun kini aku dapat membuktikan bahwa aku bukanlah anak yang manja. Aku bukan anak yang terus-terusan bergantung kepada orang tua. Kini aku adalah seorang perempuan yang mandiri dan sudah dapat bertahan hidup, meskipun di luar kota dan jauh dari mama papa. Bahkan, sekarang aku sudah dapat menghasilkan uang sendiri untuk membantu biaya kuliah dan menambah uang jajanku.

Dikisahkan oleh Ardini Valeri*

Jauh dari orang tua merupakan tantangan terbesar bagi kehidupanku. Aku yang dari kecil tidak pernah jauh dari orang tua, sangat mengalami kesulitan ketika harus berpisah dengan mereka demi melanjutkan studi ku di ibu kota.

Sejak aku kecil hingga aku sekolah menengah atas (SMA), aku tidak pernah yang namanya pergi jauh dari orang tuaku terlebih untuk kurun waktu yang cukup lama. Namun, selepas dari SMA aku harus mampu melakukannya. Awalnya memang berat bagiku untuk memutuskan bahwa aku ingin melanjutkan study ku di kota lain, kota yang cukup jauh dari orang tuaku dan terutama aku harus tinggal di sendiri di kota itu. Setelah melewati pemikiran yang cukup panjang, akhirnya keputusan semakin bulat untuk memilih berkuliah di kota lain.

Awalnya keputusanku tidak diterima oleh kedua orang tuaku. Mama papa tidak mengizinkan untuk aku berkuliah di Jakarta. Hal itu terjadi karena dari kecil aku tidak pernah pergi jauh dari mereka. Mereka berpikir bahwa aku masih belum bisa mandiri dan masih sangat bergantung kepada mereka. Semua anak memang tidak akan bisa lepas dari kedua orang tuanya. Namun, aku berpikir bahwa aku tidak bisa terus-terusan bergantung kepada orang tuaku.

Perdebatan terjadi antara aku dan mama papa, tetapi pelahan-lahan aku mencoba untuk memberikan penjelasan kepada mama terlebih dahulu, dikarenakan aku yang sangat mengenal papa bahwa ia orang yang cukup keras. Pelahan-lahan aku berbicara kepada mama, memberikan penjalasan kepadanya bahwa aku ingin belajar di kota orang agar aku bisa hidup dengan lebih mandiri dan memberikan yang terbaik bagi mereka.

Pembicaraanku dengan mama pelan-pelan mulai meluluhkan hati mama dan memberikanku izin untuk berkuliah di Jakarta. Lalu, cara memberi pengertian kepada papa adalah tugas mama, mama mencoba memberikan penjelasan kepada papa mengapa aku memutuskan untuk berkuliah di Jakarta.

Mencoba Tegar Pelahan-lahan

Semenjak itu, papa dan mama sudah memberikanku izin untuk berkuliah di kota ini. Kota besar yang sangat ramai dan padat akan kehidupannya. Hari demi hari berlalu hingga akhirnya hari itu tiba, hari dimana aku harus meninggalkan kotaku dan berpindah ke kota ini. Pertama-tama ketika aku pindah ke Jakarta, aku ditemani oleh mamaku. Mama cukup lama menemaniku di sini, mungkin ada sekitar dua minggu dia menemaniku. Hingga akhirnya sampailah saat mamaku harus kembali ke Malang dan meninggalkanku.

Awalnya aku berpikir aku sudah mulai terbiasa dengan kehidupan di sini, namun ternyata salah. Justru hari dimana mama pulang ke Malang adalah hari yang sangat berat bagiku. Aku sangat merasa kesepian, yang aku lihat hanyalah tembok-tembok putih polos yang menenami keseharianku.

Saat itu, air mata sudah tidak dapat aku tahan lagi dan mulai bercucuran mengalir deras. Tidak lama dari itu, mama menelfonku dan menanyakan keadaanku, bahkan mama masih sempat menggodaku dengan berkata “kamu nangis ya?” tetapi aku mencoba untuk tegar dan menjawab “gak ya...

Aku tidak ingin orang tuaku mereasa sedih mendengarku menangis, aku ingin mereka tahu bahwa dengan melepasku berkuliah disini bukanlah hal yang harus disesali. Di saat itu, aku menyadari bahwa belajar hidup mandiri dan tinggal jauh dari orang tua merupakan hal yang sangat sulit tidak semudah seperti yang aku bayangkan.

Semua Perempuan itu Mandiri

Hari demi hari aku lewati walaupun tidak mudah, namun aku harus tetap menjalankannya, karena inilah keputusanku. Satu bulan hingga dua bulan aku sudah mulai terbiasa dengan lingkungan baruku. Teman-teman baru mengisi hari-hariku dengan keceriaan, mereka menemaniku saat aku kesepian, karena untuk saat ini hanya mereka yang bisa menemaniku.

Membulatkan tekad untuk belajar menjadi perempuan yang mandiri memanglah sulit, namun itu yang aku pilih dan tentunya aku harus bisa mempertanggung jawabkannya terutama kepada orang tuaku. Keputusanku ini juga salah satu alasan untuk membahagiakan kedua orang tuaku.

Aku ingin dengan apa yang aku pilih, aku dapat memberikan sesuatu yang terbaik kepada mereka, kepada mereka yang telah memberikan kepercayaan kepadaku bahwa aku bisa hidup untuk lebih mandiri dengan berkuliah di kota orang.

Aku bisa dikatakan memang anak yang manja, namun sekarang aku dapat membuktikan bahwa aku bukanlah anak yang manja yang terus-terusan bergantung kepada orang tua. Kini aku adalah seorang perempuan yang mandiri yang sudah dapat bertahan hidup jauh dari mama papa dengan berkuliah di kota orang. Bahkan, sekarang aku sudah dapat menghasilkan uang sendiri untuk membantu biaya kuliah dan menambah uang jajanku.

Walau pun memang yang aku dapatkan tidak banyak, namun aku sangat mensyukuri itu. Aku sangat bangga karena aku bisa berkuliah dan menyelingi waktu dengan bekerja, aku bekerja di kampus juga di bagian marketing. Tidak semua perempuan tidak bisa mandiri, bahkan anak yang manja pun dapat menjadi perempuan yang mandiri.

Menjadi seorang yang mandiri, semakin membuatku sadar bahwa segala sesuatu dalam hidup membutuhkan usaha yang cukup keras, dan sekecil apapun itu hasilnya harus tetap disyukuri. Bagi orang-orang yang seringkali berkata bahwa “Perempuan mana bisa sih ? mandiri, bisanya minta ini itu sama orang tua”. Pernyataan itu bagiku keliru, karena semua perempuan itu mandiri.

Keterangan Penulis:

*Ardini Valeri adalah mahasiswi Marketing Communication di Universitas Bina Nusantara (BINUS).

Ilustrasi: Pixabay

Spread the good inspiration
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.