Ina Farida: Selamatkan Lingkungan & Berdayakan Warga Melalui Pemanfaatan Limbah Plastik

“80 buah tas daur ulang sama dengan 10 kg sampah plastik yang terselamatkan” (Ina Farida, 2019)

Dikisahkan oleh Alimah Fauzan*

Ina Farida (33), pada Jumat (15/02/2019) melalui akun facebooknya kembali memajang tas-tas hasil karyanya bersama para perempuan di desanya. Ina Farida adalah salah satu pemudi Desa Purbalingga yang sampai saat ini masih konsisten memanfaatkan limbah plastik menjadi beragam jenis dan ukuran tas. Bersama para perempuan di desanya, produk tas daur ulang hasil karyanya sudah memiliki pelanggan setia produk-produknya.

Ina Farida, tampak belakang dengan produk tas buatannya sendiri

Perempuan lulusan Biologi Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) ini bukan hanya lihai dalam membuat beragam produk daur ulang, namun juga beragam kue yang dijual sehari-hari maupun pesanan khusus untuk ulang tahun maupun pernikahan. Melalui facebooknya, dia kerap memajang tampilan hasil karyanya.

Bagi perempuanberkisah, sosok Ina Farida tidak terlalu asing, termasuk bagi saya yang juga pernah memanfaatkan produk tas daur ulangnya. Produknya memang bagus dan berkualitas, talinya juga cukup kuat untuk menahan tas yang isinya cukup berat. Sebelumnya, Ina pernah berbagi pengalaman para perempuan di desanya yang berdaya menjual jajanan pasar pagi dan sore. Artikel Ina ini dapat dibaca dalam “Kaum Perempuan Desa Sumampir: Menginspirasi Para Lelakinya Jualan Jajanan Pasar”

Prihatin Lingkungan yang Padat Sampah

Ina awalnya bukan sosok pemudi desa yang aktif di sebuah komunitas atau organisasi. Bahkan, saat masih di bangku kuliah, Ina mengaku hanya aktivis kampus, kos-kosan dan jalan-jalan. Namun, setelah dia lulus dari Unsoed, sekitar akhir 2012 ia memiliki banyak waktu senggang di rumah. Saat itulah dia sering bertemu dengan teman-temannya yang kebetulan ingin berpartisipasi membangun desa, khususnya di bidang lingkungan.

Tempat pensil, salah satu produk tempat pensil produk Ina Farida

“Kenapa kami fokus di bidang lingkungan? karena kami prihatin melihat kondisi lingkungan kami yang berada jauh dari pusat kota, tapi lingkungannya seperti sebuah ibukota. Dimana sampah banyak sekali yang terbuang ke sungai. Dari situlah kami sedikit berupaya agar bisa sedikit bermanfaat untuk lingkungan,” papar Ina.

Pada 2012, Ina mengaku sempat bekerja di Tangerang selama beberapa bulan. Tidak bertahan lama, karena menurutnya dia tidak begitu cocok dengan pekerjaan yang terikat waktu. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk pulang kampung.

Ina Farida dengan kue ulang tahun buatannya

“Mungkin karena bakat dari orang tua dan lingkungan yang rata-rata penjual jajan pasar dan sejenisnya, saya pun ikut-ikutan membuat jajan pasar, dan terakhir fokus ke kue ulang tahun (Ultah). Sedangkan untuk kerajinan tangan seperti tas-tas daur ulang, kami dapat ilmunya setelah ada pelatihan-pelatihan,” ungkapnya.

Desa Sumampir Kecamatan Rembang Kabupaten Purbalingga, pernah menjadi salah satu desa yang padat sampah. Tumpukan sampah di lingkungan desa kemudian mendorong pemuda pemudi di desa ini. Semangat mereka para pemuda Desa Sumampir kini bukan hanya mampu memanfaatkan limbah menjadi nilai tambah, namun juga memberdayakan para perempuan dan pemuda desa.

Berdayakan Para Perempuan di Desa

Begitu banyak serta beragamnya jenis dan ukuran yang dibuat oleh Ina Farida, tidak membuat Ina kerepotan sendiri. Salah satu cara yang dia lakukan adalah memberdayakan pada perempuan yang bisa menjahit untuk bersama-sama membuat beragam produk tas dengan memanfaatkan plastik bekas.

Secara kebetulan, Ina bersama sejumlah perempuan di desa memang telah mendapatkan pelatihan dari Pusat Pengelolaan Ekoregion Jawa (PPEJ) Kementrian Lingkungan Hidup RI. Khususnya untuk pembuatan kerajinan tangan ada tas, map, dompet, pouch, dan tempat pensil.

“Sebenarnya untuk kerajinan dari plastik bekas, saya tidak membuatnya sendiri. Saya memberdayakan warga yang bisa menjahit untuk membuatnya. Saya hanya mencari model dan pemasaran. Sedangkan untuk bahan baku sampah saya peroleh dari warga dengan membeli sampah mereka.”

Agar Sampah Tak Jadi Masalah

Para pemuda desa merangkul para perempuan desa bekerjasama bukan hanya membuat produk beragam tas, namun juga mengembangkan daur ulang sampah plastik menjadi bahan bakar minyak (BBM). Proses yaitu dengan cara membakar sampah plastik, kemudian uapnya didinginkan hingga menjadi BBM (Bahan Bakar Minyak) berupa solar yang dapat langsung dipergunakan.

Tas produk buatan Ina Farida bersama para perempuan di desanya

Dengan beragam upaya tersebut, setidaknya para pemuda dan ibu-ibu di desa telah melakukan sesuatu agar sampah yang ada di lingkungan tidak menjadi masalah di kemudian hari. Termasuk pembentukan Bank sampah yang bernama “Bank Sampah Resik Mandiri”, ini menjadi cikal bakal usaha untuk melakukan pengelolaan sampah diwilayah tersebut.

Kegiatan ini mendukung program pemerintah dalam hal ini Badan Lingkungan Hidup kabupaten Purbalingga utamanya dalam hal mengkampanyekan  3 R (Reduce, Reuse, dan Recycle), yaitu mengurangi sampah dari sumbernya, menggunakan kembali kemasan plastik/ bahan lain yang masih bisa dipakai, serta mengolah kembali/ mendaur ulang sampah baik sampah organik maupun anorganik menjadi produk yang memiliki nilai ekonomis.

Keberadaan bank sampah yang dikelola oleh pemuda-pemudi Desa Sumampir setempat ini mendapat apresiasi positif dari pemerintah pusat atas upayanya menbantu program pemerintah dalam mengatasi permasalahan sampah.

Selain memberikan penyuluhan, dalam kegiatan ini juga di adakan pelatihan membuat kerajinan dari sampah bekas seperti bunga, bros, dan dompet. Ina Farida bersama ibu-ibu di desanya masih konsisten memproduksi beragam produk dari plastik bekas.

Sempat Bergerak Sendiri hingga Menjadi Produk Andalan Pemerintah

Ada fase dimana Ina Farida harus bergerak sendiri memproduksi tas-tasnya. Hal ini bagi Ina merupakan salah satu tantangan Ina Farida yang berusaha konsisten memanfaatkan plastik bekas. Namun Ina memaklumi berbagai permasalahan dan kesibukan teman-temannya, sehingga mau tidak mau harus berjalan sendiri. Ina sendiri sampai saat ini masih termotivasi mendaur ulang sampah karena selain mendapat rejeki dari sampah, dia juga berupaya sedikit mengurangi sampah masuk ke lingkungannya.

Ketika saya bisa memberikan sedikit manfaat ke orang lain dengan membeli sampah-sampah mereka, rasanya bahagia, bisa melihat mereka tersenyum,” tuturnya.

Selain sempat minimnya minat dari para warga untuk daur ulang sampah, dalam hal pemasaran juga menjadi tantangan tersendiri. Rata-rata masyarakat sekarang kurang menghargai hasil daur ulang dari sampah. Kalau untuk kue, kini semakin bertambahnya pembuat kue. Jadi harus terus membuat inovasi. Begitupun dengan model-model kerajinan dari plastik.

Produk kue Ina Farida

Ina juga sudah mulai memasarkan melalui instagram ataupun intertnet. Ina sendiri termasuk produktif dalam menulis segala hal tentang desanya. Dia menulis di penadesa, bralink.com, vemale.com, dan pernah juga menulis di perempuanberkisah.

Salah satu tulian Ina adalah tentang kondisi jembatan gantung yang tidak layak pakai di desa tetangganya. Tulisan tersebut pernah di respon Gubernur Jateng dan mendapat respon berbuah kunjungan Gubernur Jateng ke desa tersebut dan kemudian dibangun jembatan permanen seperti impian warga desa tersebut.

Saat ini, Ina masih sering memotivasi ibu-ibu di desanya dan sosialisasi tentang pentingnya daur ulang plastik menjadi produk berkualitas. Dalam hal pemasaran, Ina dan para perempuan yang diberdayakannya dibantu Dinas Lingkungan Hidup (LH) di Kabupaten Purbalingga.

Kini setiap ada acara, Pemkab menggunakan produk hasil kreatifitasnya bersama para perempuan di desa. Selain itu juga dipasarkan melalui media sosial (Medsos) dan lingkungan sekitar. Sejak 2014, awal mulanya dari Dinas LH yang menawarkan pemesanan map daur ulang dari temannya yang ada di Kepulauan Riau. Sejak saat itu, Dinas LH selalu selalu menggunakan produk buatannya.

===

Keterangan Penulis:

Alimah Fauzan adalah salah satu blogger yang masih senang berbagi kisah inspiratif pemberdayaan perempuan. Blognya: www.alimahfauzan.id

Spread the good inspiration
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.